Masyaallah. . .ternyata sudah setahun lebih blog ini tidak dikunjungi.
Ha ha ha, mungkin ini efek terlalu banyak rumah, sehingga tidak semua diperlakukan dengan baik.
Biasa, alasan klise, tidak tertangani.
Kenapa juga punya rumah banyak-banyak? Seperti pejabat yang kebanyakan uang? Rumahnya di mana-mana, tapi tidak sempat menikmatinya. Ups! Kok malah ngomongin orang lain?
Kenapa ya, dulu kok buat blog banyak-banyak?
Di ingat-ingat, waktu itu sedang semangat-semangatnya menulis. Apapun bisa jadi ide tulisan. Itu sebabnya perlu membuat banyak blog, dengan tujuan membuat kumpulan tulisan per tema. Blog gratisan juga, kok.
Siapa tahu suatu saat ada kesempatan diterbitkan dalam sebuah buku sesuai tema, jadi nggak repot memilah-milahnya, seperti yang terjadi pada buku pertama. Membutuhkan energi lumayan untuk memilahnya dari blog yang isinya campuran dan berisi lebih dari 600 judul tulisan.
Tapi, sekali lagi masalah konsistensi yang masih terus dilatih. Apalagi kalau sudah bertemu dengan kesibukan di dunia nyata. Saat ada ide dan sedikit kesempatan menulis, langsung saja blog yang lahir pertama yang di isi.
Nggak janji juga, sih, tapi akan diusahakan untuk kembali pada komitmen awal.
Monday, April 27, 2015
Sunday, August 31, 2014
Doa Ibu Imam Bukhari
Seri Pejuang Ilmu >1<
Siapa tak kenal nama Imam Bukhari? Perawi hadist peringkat pertama untuk keshahihannya. Tetapi, pernahkah kita mencari tahu bagaimana kehidupan dan perjuangan beliau dalam upaya menghasilkan karya yang spektakuler dan sangat dibutuhkan itu? Padahal bisa dipastikan, dari kehidupan beliau banyak hal yang bisa kita pelajari untuk kita contoh dan terapkan dalam kehidupan.
Abu Abdillah Muhammad bin Isma'il bin Ibrahim bin Al-Mughiroh bin Badrudizbah Al-Ju'fiy Al-Bukhari, lahir tahun 194 H di Bukhoro, salah satu wilayah di Rusia (atau Uzbekistan?). Itu sebabnya beliau disebut sebagai Imam Bukhari.
Beberapa sumber mengatakan, setelah kelahirannya Imam Bukhari mengalami kebutaan. Tapi dengan kesabaran, orang tuanya tak bosan berdoa untuk kesembuhannya.
Muhammad bin Ahmad bin Fadhl al-Balkhi berkata,"Aku mendengar bapakku berkata:'Kedua mata Muhammad bin Ismail (Imam Bukhari) buta pada waktu kecilnya. Hingga suatu saat ibunya mimpi bertemu dengan Nabi Ibrahim al-Khalil dalam tidurnya. Nabi Ibrahim berkata kepadanya,"Wahai engkau perempuan! Sesungguhnya Allah telah mengembalikan penglihatan anakmu lantaran banyaknya tangisanmu (atau doamu-al-Balkhi sang perawi ragu antara keduanya), lalu pada pagi hari kami melihat, ternyata Allah telah mengembalikan penglihatannya."
Sebuah pelajaran besar yang bisa kita ambil, bahwasanya tak ada yang mustahil bagi Allah. Dari kenyataan ini juga kita bisa belajar, salah satu cara bagaimana mengantarkan anak menuju kesuksesannya.
Kisah ini juga mengingatkan kita pada sebuah hadist, dari Abu Hurairah ra, berkata, Rasulullah saw bersabda,"Tiga doa yang mustajab (didengar oleh Allah) yang tidak ada keraguan lagi di dalamnya ; doa orang yang terdzalimi, doa seorang musafir dan doa orang tua untuk anaknya." HR Tirmidzi.
Sebagian kita beranggapan, anak berkebutuhan khusus adalah musibah dan beban berkepanjangan. Itu semua hanya anggapan, karena Allah tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Apapun ciptaannya akan bermanfaat, tergantung bagaimana manusia menerima dan mengelolanya.
Selain kehidupan Imam Bukhari, mungkin kita bisa mengambil contoh orang tua masa kini yang mampu mengoptimalkan potensi anaknya yang berkebutuhan khusus, bahkan melebihi manusia normal lainnya.
Siapa tak kenal nama Imam Bukhari? Perawi hadist peringkat pertama untuk keshahihannya. Tetapi, pernahkah kita mencari tahu bagaimana kehidupan dan perjuangan beliau dalam upaya menghasilkan karya yang spektakuler dan sangat dibutuhkan itu? Padahal bisa dipastikan, dari kehidupan beliau banyak hal yang bisa kita pelajari untuk kita contoh dan terapkan dalam kehidupan.
Abu Abdillah Muhammad bin Isma'il bin Ibrahim bin Al-Mughiroh bin Badrudizbah Al-Ju'fiy Al-Bukhari, lahir tahun 194 H di Bukhoro, salah satu wilayah di Rusia (atau Uzbekistan?). Itu sebabnya beliau disebut sebagai Imam Bukhari.
Beberapa sumber mengatakan, setelah kelahirannya Imam Bukhari mengalami kebutaan. Tapi dengan kesabaran, orang tuanya tak bosan berdoa untuk kesembuhannya.
Muhammad bin Ahmad bin Fadhl al-Balkhi berkata,"Aku mendengar bapakku berkata:'Kedua mata Muhammad bin Ismail (Imam Bukhari) buta pada waktu kecilnya. Hingga suatu saat ibunya mimpi bertemu dengan Nabi Ibrahim al-Khalil dalam tidurnya. Nabi Ibrahim berkata kepadanya,"Wahai engkau perempuan! Sesungguhnya Allah telah mengembalikan penglihatan anakmu lantaran banyaknya tangisanmu (atau doamu-al-Balkhi sang perawi ragu antara keduanya), lalu pada pagi hari kami melihat, ternyata Allah telah mengembalikan penglihatannya."
Sebuah pelajaran besar yang bisa kita ambil, bahwasanya tak ada yang mustahil bagi Allah. Dari kenyataan ini juga kita bisa belajar, salah satu cara bagaimana mengantarkan anak menuju kesuksesannya.
Kisah ini juga mengingatkan kita pada sebuah hadist, dari Abu Hurairah ra, berkata, Rasulullah saw bersabda,"Tiga doa yang mustajab (didengar oleh Allah) yang tidak ada keraguan lagi di dalamnya ; doa orang yang terdzalimi, doa seorang musafir dan doa orang tua untuk anaknya." HR Tirmidzi.
Sebagian kita beranggapan, anak berkebutuhan khusus adalah musibah dan beban berkepanjangan. Itu semua hanya anggapan, karena Allah tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Apapun ciptaannya akan bermanfaat, tergantung bagaimana manusia menerima dan mengelolanya.
Selain kehidupan Imam Bukhari, mungkin kita bisa mengambil contoh orang tua masa kini yang mampu mengoptimalkan potensi anaknya yang berkebutuhan khusus, bahkan melebihi manusia normal lainnya.
Tuesday, April 29, 2014
IMAN ITU BERCABANG-CABANG
"Maksudnya apa? Bukankah iman itu merupakan keyakinan dalam hati, ikrar dengan lisan dan amal dengan anggota badan. Bertambah karena taat dan berkurang karena maksiat?"
"Betul, naaaah, cabang-cabang iman ini merupakan penjabaran dari pengertian iman tersebut. Sebagai Muslim, sebaiknya kita tahu, sehingga bisa hidup dengan iman yang benar?"
"Ada berapa, cabang iman?"
"Iman itu terdiri dari enam puluh sekian atau tujuh puluh sekian cabang, yang paling utama adalah ucapan 'laa ilaaha illallaah', yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan malu adalah salah satu cabang dari iman." (HR Bukhari n Muslim dari Abu Hurairah)
"Banyak banget! tapi, mengapa yang paling utama ucapan laa ilaaha illallaah'?"
"Karena 'laa ilaaha illallaah' inti dakwah para rasul yang diutus Allah ke muka bumi, dalam firman-Nya:
'Dan Kami tidak mengutus seorang rasul sebelum kamu, melainkan Kami wahykan kepadanya bahwasanya tidak ada Tuhan (yang wajib disembah) melainkan Aku, maka sembahlah Aku.' (Al Anbiya : 25)"
"Ucapan laa ilaaha illallaah yang disertai pemahaman, akan memberikan pengaruh pada diri yang mengucapkan dalam menjalani kehidupannya, sesuai dengan tujuan diciptakannya, yaitu beribadah kepada Allah."
"Kok cabang iman terendah menyingkirkan gangguan dari jalan?"
"Karena sebagian kita suka meremehkan amal-amal sederhana, seperti menyingkirkan duri atau kayu yang menghalangi jalan, padahal itu merupakan amal yang membuktikan keimanan seseorang. Dengan perbuatan sederhana itu, banyak orang terselamatkan, terhindar dari musibah, bukankah hal itu layak mendapat ganjaran pahala? "
"Terus kenapa malu juga bagian dari iman?"
"Rasa malu biasanya mencegah kita dari berbuat maksiat."
"Cabang iman yang lain, apa aja?"
"Wedew! Perlu penjelasan panjang lebar nih! Biar puas, baca di kitab Fathul Bari karya Ibnu Hajar, atau minimal di buku Arba'in Tarbawiyah karya Fakhruddin Nursyam, Lc."
"Wah! Pe er dong?"
"He he he."
"Betul, naaaah, cabang-cabang iman ini merupakan penjabaran dari pengertian iman tersebut. Sebagai Muslim, sebaiknya kita tahu, sehingga bisa hidup dengan iman yang benar?"
"Ada berapa, cabang iman?"
"Iman itu terdiri dari enam puluh sekian atau tujuh puluh sekian cabang, yang paling utama adalah ucapan 'laa ilaaha illallaah', yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan malu adalah salah satu cabang dari iman." (HR Bukhari n Muslim dari Abu Hurairah)
"Banyak banget! tapi, mengapa yang paling utama ucapan laa ilaaha illallaah'?"
"Karena 'laa ilaaha illallaah' inti dakwah para rasul yang diutus Allah ke muka bumi, dalam firman-Nya:
'Dan Kami tidak mengutus seorang rasul sebelum kamu, melainkan Kami wahykan kepadanya bahwasanya tidak ada Tuhan (yang wajib disembah) melainkan Aku, maka sembahlah Aku.' (Al Anbiya : 25)"
"Ucapan laa ilaaha illallaah yang disertai pemahaman, akan memberikan pengaruh pada diri yang mengucapkan dalam menjalani kehidupannya, sesuai dengan tujuan diciptakannya, yaitu beribadah kepada Allah."
"Kok cabang iman terendah menyingkirkan gangguan dari jalan?"
"Karena sebagian kita suka meremehkan amal-amal sederhana, seperti menyingkirkan duri atau kayu yang menghalangi jalan, padahal itu merupakan amal yang membuktikan keimanan seseorang. Dengan perbuatan sederhana itu, banyak orang terselamatkan, terhindar dari musibah, bukankah hal itu layak mendapat ganjaran pahala? "
"Terus kenapa malu juga bagian dari iman?"
"Rasa malu biasanya mencegah kita dari berbuat maksiat."
"Cabang iman yang lain, apa aja?"
"Wedew! Perlu penjelasan panjang lebar nih! Biar puas, baca di kitab Fathul Bari karya Ibnu Hajar, atau minimal di buku Arba'in Tarbawiyah karya Fakhruddin Nursyam, Lc."
"Wah! Pe er dong?"
"He he he."
Thursday, March 27, 2014
KITA BUTUH KOTAK
Belakangan, terjadi alergi massal terhadap masalah politik dan partai.
Salah satunya pernyataan bahwa partai itu merupakan tindakan pengkotak-kotakan terhadap manusia, dan tidak sepantasnya dilakukan terhadap manusia.
Benarkah manusia tidak butuh kotak?
Kalau kotak yang dimaksud adalah penggolongan manusia, benarkah tidak manusiawi? Sedangkan Allah sendiri menggolongkan manusia ke dalam dua golongan, dua kotak, yaitu hizbusyaithon dan hizbullah.
Menurutku bukan masalah pengkotakannya yang perlu kita kritisi, tapi dasar pengkotakan itu.
Allah menggolongkan manusia dengan dasar perbedaan ketaatanNya, yang taat dan setia kepada syaithon disebut hizbusyaithon, golongan syetan, partai syetan, sedang yang taat kepada Allah disebut hizbullah, golongan yang taat dan setia kepada Allah, partainya Allah.
Bukankah ada kecenderungan manusia mendekat kepada yang sejenis, nyaman dengan karakter sejenis? Artinya berkotak-kotak, bergolongan, berpartai, itu merupakan naluri manusia, sangat manusiawi.
Jujur, bagaimana rasanya kalau kita merasa tidak berada di golongan tertentu? golongan syeitan atau golongan Allah? golongan kafir atau golongan beriman? nggak jelas siapa kawan siapa lawan?
Salah satunya pernyataan bahwa partai itu merupakan tindakan pengkotak-kotakan terhadap manusia, dan tidak sepantasnya dilakukan terhadap manusia.
Benarkah manusia tidak butuh kotak?
Kalau kotak yang dimaksud adalah penggolongan manusia, benarkah tidak manusiawi? Sedangkan Allah sendiri menggolongkan manusia ke dalam dua golongan, dua kotak, yaitu hizbusyaithon dan hizbullah.
Menurutku bukan masalah pengkotakannya yang perlu kita kritisi, tapi dasar pengkotakan itu.
Allah menggolongkan manusia dengan dasar perbedaan ketaatanNya, yang taat dan setia kepada syaithon disebut hizbusyaithon, golongan syetan, partai syetan, sedang yang taat kepada Allah disebut hizbullah, golongan yang taat dan setia kepada Allah, partainya Allah.
Bukankah ada kecenderungan manusia mendekat kepada yang sejenis, nyaman dengan karakter sejenis? Artinya berkotak-kotak, bergolongan, berpartai, itu merupakan naluri manusia, sangat manusiawi.
Jujur, bagaimana rasanya kalau kita merasa tidak berada di golongan tertentu? golongan syeitan atau golongan Allah? golongan kafir atau golongan beriman? nggak jelas siapa kawan siapa lawan?
KELIRU ATAU LUPA?
Ini kejadian sekitar setahun yang lalu.
"Tif, ada pulsa nggak?"
"Kosong, Mi, belum ngisi. Pulsa Umi habis juga?"
"Iya, pikirnya sih pake hp Hatif, sms Mama Akram, minta isiin pulsa."
"Aku isiin dari konter ya, sekalian ngisi punyaku."
"Ya, boleh."
***
"Sudah masuk, Mi, pulsanya?" tanya Hatif sekembalinya dari konter.
"Belum."
"Kok belum ya, padahal tadi aku tungguin ngisinya?"
"Tanya lagi aja, sayang duapuluh ribu kalau nyasar."
"Iya, Mi, mumpung belum lama."
***
"Mi, sudah terkirim tuh laporannya, sekarang sudah masuk?"
"Belum juga."
"Wah, padahal beneran, aku tadi baca sms laporannya."
"Hatif lihat nomor tujuannya?"
"Lihat, Mi, bener kok."
"Nomor berapa?" tanyaku. Kemudian Hatif menyebutkan nomor yang diisi pulsa, ha ha, ternyata nomor Abi.
"Hatif ingat nomor Abi?" kutanyakan lagi, untuk lebih yakin bahwa feelingku benar. Dia menyebutkan nomor hpku.
"Yakin, itu nomor Abi?" tanyaku sambil tersenyum. Hatif tampak mengingat-ingat.
"Ha ha ha, tertukar, Mi! Pantes nggak masuk-masuk."
"Piye tho Tif, Al Quran 30 juz masuk, kok nomor hp lupa?"
"Bukan lupa, Mi, tapi keliru. Kalau lupa nomornya salah, tapi ini tadi nomornya benar tapi labelnya tertukar, he he."
"Menghafal Al Quran juga begitu ya? Sering tertukar antar ayat?"
"Iya Mi, tapi semakin sering murojaah/ diulang-ulang ya tambah berkurang yang begituan."
"He he, kirain Umi, kalau sudah hafidz Quran, semua informasi yang masuk nggak bakal lupa?"
"Wah, malah bahaya, Mi, kalau sepert itu."
"Kok bahaya?"
"Misal nih, aku melihat cewek cantik, apa dari TV, iklan di pinggir jalan atau orang sungguhan, trus nggak lupa-lupa, malah repot, Mi, mengganggu konsentrasi."
"Subhanallah, Robbana ma kholaqta, tak ada kesia-siaan dalam ciptaan Allah, termasuk lupa."
***
"Tif, ada pulsa nggak?"
"Kosong, Mi, belum ngisi. Pulsa Umi habis juga?"
"Iya, pikirnya sih pake hp Hatif, sms Mama Akram, minta isiin pulsa."
"Aku isiin dari konter ya, sekalian ngisi punyaku."
"Ya, boleh."
***
"Sudah masuk, Mi, pulsanya?" tanya Hatif sekembalinya dari konter.
"Belum."
"Kok belum ya, padahal tadi aku tungguin ngisinya?"
"Tanya lagi aja, sayang duapuluh ribu kalau nyasar."
"Iya, Mi, mumpung belum lama."
***
"Mi, sudah terkirim tuh laporannya, sekarang sudah masuk?"
"Belum juga."
"Wah, padahal beneran, aku tadi baca sms laporannya."
"Hatif lihat nomor tujuannya?"
"Lihat, Mi, bener kok."
"Nomor berapa?" tanyaku. Kemudian Hatif menyebutkan nomor yang diisi pulsa, ha ha, ternyata nomor Abi.
"Hatif ingat nomor Abi?" kutanyakan lagi, untuk lebih yakin bahwa feelingku benar. Dia menyebutkan nomor hpku.
"Yakin, itu nomor Abi?" tanyaku sambil tersenyum. Hatif tampak mengingat-ingat.
"Ha ha ha, tertukar, Mi! Pantes nggak masuk-masuk."
"Piye tho Tif, Al Quran 30 juz masuk, kok nomor hp lupa?"
"Bukan lupa, Mi, tapi keliru. Kalau lupa nomornya salah, tapi ini tadi nomornya benar tapi labelnya tertukar, he he."
"Menghafal Al Quran juga begitu ya? Sering tertukar antar ayat?"
"Iya Mi, tapi semakin sering murojaah/ diulang-ulang ya tambah berkurang yang begituan."
"He he, kirain Umi, kalau sudah hafidz Quran, semua informasi yang masuk nggak bakal lupa?"
"Wah, malah bahaya, Mi, kalau sepert itu."
"Kok bahaya?"
"Misal nih, aku melihat cewek cantik, apa dari TV, iklan di pinggir jalan atau orang sungguhan, trus nggak lupa-lupa, malah repot, Mi, mengganggu konsentrasi."
"Subhanallah, Robbana ma kholaqta, tak ada kesia-siaan dalam ciptaan Allah, termasuk lupa."
***
Wednesday, March 26, 2014
NGAJI POLITIK
"Mi, suami saya agak keberatan kalau saya pamit mau pengajian," kata bu Yani.
"Lho, kemarin-kemarin nggak keberatan? Katanya malah senang, karena sejak ikut pengajian Ibu tambah rajin ibadah dan tambah pinter membahagiakan suami?" tanyaku.
"Yang kemarin saya nggak bohong, Mi. Tapi sekarang-sekarang ini beliau keberatan, karena katanya sekarang ngajinya dikait-kaitkan dengan politik."
"Bukannya sudah tahu dari awal kalau Umi termasuk yang dakwahnya lewat politik?"
"Tahu kok, Mi, tapi selama ini nggak begitu mengganggu, mungkin karena situasi dekat pemilu ini, jadi panasnya terasa, he he?"
"Selama ini merasa dipaksa ikut politik, ngggak?"
"Nggak, Mi. Saya sama sekali nggak merasa di ajak ke politik, yang saya rasakan saya diajak untuk lebih dekat sama Allah, berkeluarga dan bermasyarakat sesuai tuntunan Islam. Andainyapun diajak untuk partisipasi dalam kegiatan yang pake bendera partai, nggak dipaksa juga, sukarela. Kegiatannya juga nggak ada yang melanggar, masa dzikir bersama, bakti sosial, senam massal melanggar, enggak kan Mi?"
"Ya syukurlah kalau Ibu tidak merasa dipaksa."
"Tapi heran deh, kenapa orang-orang yang nggak ikut ngaji bisa ngomong macam-macam ya?"
"Apa yang mereka katakan?" tanyaku.
"Maaf, Mi, meeka bilang partai Umi, eh partai kita menjual agama."
"Ya biarlah, yang penting kita tidak melakukan yang mereka tuduhkan."
"Mi, sebenarnya berpolitik itu dilarang nggak sih dalam Islam?"
"Islam itu ajaran yang syumul, lengkap, menyeluruh, meliputi seluruh aspek kehidupan kita. Dari urusan makan, buang air, hubungan suami istri, bermasyarakat, pendidikan, bernegara, semua ada tuntunannya. Rasulullah sendiri seorang pimpinan tertinggi sebuah masyarakat dan negara."
"Tapi ada yang bilang, karena sistem negara kita bukan sistem Islam, maka kita nggak boleh ikut di dalamnya?"
"Beda pendapat itu biasa, tapi sebaiknya tidak menimbulkan perpecahan di antara umat Islam, jangan saling serang, jangan menghalangi kalau kita tidak setuju dengan caranya. Kalau kita belum bisa bekerja sama dalam satu tim, ayo kita sama-sama kerja dalam bidang dan garapan dakwahnya masing-masing. Musuh kita hanya satu, syetan dalam segala bentuknya, mereka yang menghalangi kita berdakwah untuk mengajak manusia menuju ketaatan hanya pada Allah."
"Tantangan di jalan dakwah memang berat ya, Mi?"
"Ya beratlah, karena imbalannya juga hal yang luar biasa, keridhoan Allah dengan surgaNya."
"Lho, kemarin-kemarin nggak keberatan? Katanya malah senang, karena sejak ikut pengajian Ibu tambah rajin ibadah dan tambah pinter membahagiakan suami?" tanyaku.
"Yang kemarin saya nggak bohong, Mi. Tapi sekarang-sekarang ini beliau keberatan, karena katanya sekarang ngajinya dikait-kaitkan dengan politik."
"Bukannya sudah tahu dari awal kalau Umi termasuk yang dakwahnya lewat politik?"
"Tahu kok, Mi, tapi selama ini nggak begitu mengganggu, mungkin karena situasi dekat pemilu ini, jadi panasnya terasa, he he?"
"Selama ini merasa dipaksa ikut politik, ngggak?"
"Nggak, Mi. Saya sama sekali nggak merasa di ajak ke politik, yang saya rasakan saya diajak untuk lebih dekat sama Allah, berkeluarga dan bermasyarakat sesuai tuntunan Islam. Andainyapun diajak untuk partisipasi dalam kegiatan yang pake bendera partai, nggak dipaksa juga, sukarela. Kegiatannya juga nggak ada yang melanggar, masa dzikir bersama, bakti sosial, senam massal melanggar, enggak kan Mi?"
"Ya syukurlah kalau Ibu tidak merasa dipaksa."
"Tapi heran deh, kenapa orang-orang yang nggak ikut ngaji bisa ngomong macam-macam ya?"
"Apa yang mereka katakan?" tanyaku.
"Maaf, Mi, meeka bilang partai Umi, eh partai kita menjual agama."
"Ya biarlah, yang penting kita tidak melakukan yang mereka tuduhkan."
"Mi, sebenarnya berpolitik itu dilarang nggak sih dalam Islam?"
"Islam itu ajaran yang syumul, lengkap, menyeluruh, meliputi seluruh aspek kehidupan kita. Dari urusan makan, buang air, hubungan suami istri, bermasyarakat, pendidikan, bernegara, semua ada tuntunannya. Rasulullah sendiri seorang pimpinan tertinggi sebuah masyarakat dan negara."
"Tapi ada yang bilang, karena sistem negara kita bukan sistem Islam, maka kita nggak boleh ikut di dalamnya?"
"Beda pendapat itu biasa, tapi sebaiknya tidak menimbulkan perpecahan di antara umat Islam, jangan saling serang, jangan menghalangi kalau kita tidak setuju dengan caranya. Kalau kita belum bisa bekerja sama dalam satu tim, ayo kita sama-sama kerja dalam bidang dan garapan dakwahnya masing-masing. Musuh kita hanya satu, syetan dalam segala bentuknya, mereka yang menghalangi kita berdakwah untuk mengajak manusia menuju ketaatan hanya pada Allah."
"Tantangan di jalan dakwah memang berat ya, Mi?"
"Ya beratlah, karena imbalannya juga hal yang luar biasa, keridhoan Allah dengan surgaNya."
Tuesday, March 11, 2014
BISAKAH KITA TERBEBAS DARI PARFUM?
"Mau ke mana, Han?" tanyaku saat Hany berpamitan.
"Ke mini market sebentar."
"Beli apa?"
"Parfum."
"Untuk siapa?" biasanya ada teman yang suka nitip belanja.
"Untuk Hanylah, Mi."
"Bukannya perempuan kalau keluar rumah nggak boleh pakai parfum?"
"Memang Umi nggak pakai parfum?"
"Nggak."
"Kalau mandi, Umi pakai sabun nggak?"
"Pakai."
"Harum nggak?"
"Harum."
"Parfum bukan?
O ow, pinternya ABGku, iya juga, parfumkan berarti pengharum?
"Memang kita bisa bebas dari parfum, Mi? Hampir semua kebutuhan kita yang terkait dengan perawatan tubuh dan pakaian menggunakan parfum. Sabun mandi, shampo, bedak, sabun cuci, detergen, pelembut cucian, pelicin pakaian, semua pakai parfum."
"Benar juga sih, tapikan kita harus melaksanakan tuntunan Rasulullah sebagai bukti ketaatan kita kepada Allah."
"Kata ustadz, ketika kita mengkaji ayat atau hadist, tidak boleh satu ayat atau hadist tunggal, kan banyak ayat dan hadits yang membahas tentang tema tertentu?"
"Memang iya sih, dalam bahasan tertentu sering terjadi beberapa pendapat yang berbeda, semuanya pakai dalil, itu sebabnya untuk urusan yang seperti ini kita jangan ngotot dengan pendapat sendiri. Kita perlu kritis dengan dalil yang dijadikan dasar berpendapat."
"Jadi gimana?" Hany menunggu keputusanku.
"Lha Hany pakai parfum tujuannya untuk apa?"
"Malu, Mi, BB."
"Kalau masalah BB sebenarnya bisa diusahakan dengan menjaga kebersihan dan pola makan yang baik, kecuali ada penyakit tertentu."
"Kalau seperti Umi enak, di rumah. Keringatan sedikit bisa dilap basah, baju bau dikit bisa langsung ganti, lha Hanykan di luar rumah, nggak bisa menghindar dari keringat dan baunya."
"Di salah satu hadist, Rasululullah mengatakan parfum yang baik untuk laki-laki yang kuat baunya, sedikit warnanya, sedang untuk wanita, yang kuat warnanya, sedikit baunya. Sementara pakai dalil ini dulu, sambil terus belajar. Luruskan niatnya, jangan terbersit dalam hati niat pakai parfum untuk menarik lawan jenis. Beli parfum yang fungsinya menetralisir bau keringat, harumnya lembut, trus hindari berdekat-dekat dengan lawan jenis."
"Iya, Mi. Semoga Allah mengampuni, misalnya dalam pilihan sikap ini belum yang terbaik menurutNya."
"Ke mini market sebentar."
"Beli apa?"
"Parfum."
"Untuk siapa?" biasanya ada teman yang suka nitip belanja.
"Untuk Hanylah, Mi."
"Bukannya perempuan kalau keluar rumah nggak boleh pakai parfum?"
"Memang Umi nggak pakai parfum?"
"Nggak."
"Kalau mandi, Umi pakai sabun nggak?"
"Pakai."
"Harum nggak?"
"Harum."
"Parfum bukan?
O ow, pinternya ABGku, iya juga, parfumkan berarti pengharum?
"Memang kita bisa bebas dari parfum, Mi? Hampir semua kebutuhan kita yang terkait dengan perawatan tubuh dan pakaian menggunakan parfum. Sabun mandi, shampo, bedak, sabun cuci, detergen, pelembut cucian, pelicin pakaian, semua pakai parfum."
"Benar juga sih, tapikan kita harus melaksanakan tuntunan Rasulullah sebagai bukti ketaatan kita kepada Allah."
"Kata ustadz, ketika kita mengkaji ayat atau hadist, tidak boleh satu ayat atau hadist tunggal, kan banyak ayat dan hadits yang membahas tentang tema tertentu?"
"Memang iya sih, dalam bahasan tertentu sering terjadi beberapa pendapat yang berbeda, semuanya pakai dalil, itu sebabnya untuk urusan yang seperti ini kita jangan ngotot dengan pendapat sendiri. Kita perlu kritis dengan dalil yang dijadikan dasar berpendapat."
"Jadi gimana?" Hany menunggu keputusanku.
"Lha Hany pakai parfum tujuannya untuk apa?"
"Malu, Mi, BB."
"Kalau masalah BB sebenarnya bisa diusahakan dengan menjaga kebersihan dan pola makan yang baik, kecuali ada penyakit tertentu."
"Kalau seperti Umi enak, di rumah. Keringatan sedikit bisa dilap basah, baju bau dikit bisa langsung ganti, lha Hanykan di luar rumah, nggak bisa menghindar dari keringat dan baunya."
"Di salah satu hadist, Rasululullah mengatakan parfum yang baik untuk laki-laki yang kuat baunya, sedikit warnanya, sedang untuk wanita, yang kuat warnanya, sedikit baunya. Sementara pakai dalil ini dulu, sambil terus belajar. Luruskan niatnya, jangan terbersit dalam hati niat pakai parfum untuk menarik lawan jenis. Beli parfum yang fungsinya menetralisir bau keringat, harumnya lembut, trus hindari berdekat-dekat dengan lawan jenis."
"Iya, Mi. Semoga Allah mengampuni, misalnya dalam pilihan sikap ini belum yang terbaik menurutNya."
Subscribe to:
Posts (Atom)

