Wednesday, February 26, 2014

CARA MAKAN

"Ini makanan siapa, Mba?" tanya Nur, sambil menunjuk makanan yang belum selesai kusantap.

"Owh, makanan Mba, belum selesai tadi." jawabku ringan.

"Apa masih enak, sudah ditinggal ke mana-mana?"

"Masihlah, kan sayurnya terpisah."

Memang aku makan dengan wadah yang biasa untuk bekal anak-anak sekolah, tempat nasi dan sayur terpisah.

Nur diam, seperti sedang memikirkan sesuatu.

"Mikir apa Nur?"

"Mba kan sudah tahu bagaimanaa cara makan sesuai sunnah Rasul?"

"Tahu Nur, dan Mba ingin sekali melaksanakannya dengan sempurna. Makan dengan cara duduk Rasulullah ketika makan, menggunakan tiga jari, mengambil makanan yang terdekat, tapi belum bisa sempurna untuk setiap kali makan, kadang-kadang saja kalau kondisi sedang memungkinkan. Mungkin ini alasan, tapi pada kenyataannya, untuk duduk lima belas menit saja menikmati makan dengan sempurna, sulit banget. Baru dua suap, sebentar anak memanggil, minta inilah, itulah yang tidak bisa ditunda atau digantikan orang lain. Nah, sekarang tambah-tambah, sedang makan, muncul ide yang segera harus dituliskan, kalau nunggu selesai makan, cuci tangan, ha ha, bisa kabur idenya."

"Itu bukan alasan yang dicari-carikan Mba?"

"Entahlah Nur, semoga ini bukan sebuah dosa, walaupun tidak mendapat keutamaan mengikuti Rasul dari hal ini. Tapi Mba berusaha mengikuti Rasul dari sisi lainnya, yaitu makan makanan yang halal dan thoyyib, baik zatnya maupun dari cara mendapatkannya. Mba sering lalai untuk makan kalau tidak dengan cara seperti ini, mungkin karena begitu banyaknya urusan ya?"

"Apa mungkin orang-orang lain yang nggak nyunnah itu seperti Mba ya alasannya?"

"Wah, terlalu jauh untuk mengetahui kondisi masing-masing orang. Setiap orang punya sebab yang berbeda, ada yang tidak tahu, ada yang tahu tapi belum melaksanakan walaupun tidak menolak dengan berbagai pertimbangan, ada yang menolak karena kesombongan atau tidak mau tahu keutamaan dari sunnah Rasul."

"Bukankah kita harus mengikut cara hidup Rasulullah?"

"Benar! Dan itu bisa kita lakukan dengan cara bertahap. Kita tidak bisa memaksa orang lain untuk hidup nyunnah seperti kita, atau memandang sinis kepada saudara kita yang belum bisa secara sempurna melaksanakan seluruhnya. Sunnah Rasul itu banyak ragamnya, dari sisi aqidah, syari'ah dan muamalah. Kesempatan belajar kita juga berbeda-beda, sehingga pengetahuan tentang kehidupan Rasul juga tidak sama banyaknya. Mungkin kita merasa sudah nyunnah dalam hal tertentu dan menilai orang lain tidak nyunnah, padahal bisa jadi orang tersebut lebih nyunnah dari pada kita untuk urusan lain yang lebih penting, misalnya urusan aqidahnya. Jujur, Mba sedih banget kalau ada yang bilang Mba nggak nyunnah, padahal hanya untuk satu dua hal, tapi tuduhannya itu mengeneralisir seolah-olah kehidupan Mba jauh dari keberkahan karena tidak mau nyunnah."

"Maafkan Nur ya Mba, kalau sudah buat sedih."

"Nggak apa-apa Nur, kita sahabat, saling terbuka, saling mengingatkan, setidaknya apa yang Mba rasakan bisa jadi masukan untuk Nur ketika mengingatkan masalah nyunnah kepada orang lain."

"Iya, Mba, terima kasih."

Tuesday, February 25, 2014

DEBAT DENGAN CARA YANG BAIK

Fenomena dunia maya memang luar biasa, segala hal yang di dunia nyata sangat sulit terjadi pada diri seseorang, di dunia maya dapat dilakukan sebebas-bebasnya.

Seseorang yang selama ini gemetaran bila bicara di depan umum, ketika di dunia maya bisa bebas bicara apa saja, dengan siapa saja, dengan gaya apa saja, ramah, marah, nyindir, nyentil, melecehkan,dll.

Apalagi di akun kita bisa bebas membuat identitas palsu, pp sesukanya, dan juga bisa mempunyai beberapa akun sekaligus, tentunya dengan identitas yang berbeda.

Satu pertanyaan, apakah yang kita lakukan di dunia maya juga termasuk yang diamati dan dicatat oleh malaikat Roqib dan Atid yang selalu menyertai kita?

Kalau ya! Wow! siapkah kita melihat catatan itu?

Anggap saja begitu, karena , "Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan dimintai pertanggung jawaban." (terjemah Al Quran surat Al Isro' ayat 36 ).

Bukankah ketika berinteraksi di dunia maya kita menggunakan fikiran, perasaan, penglihatan dan kadang-kadang pendengaran?

Artinya tetap saja apa yang kita lakukan di dunia maya bukan suatu hal yang tanpa nilai, dia bagian dari kehidupan di dunia nyata, terbukti kita menggunakan fisik yang sama, waktu yang sama, dll.

Berarti juga, pergaulan di dunia maya harusnya juga menggunakan tuntunan yang kita pakai di dunia nyata.

"Hai orang-orang yang beriman! Sungguh Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kamu saling mengenal. Sungguh yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti." Terjemah Al Quran surat Al Hujurat ayat 13.

Di dunia maya, sebagaimana di dunia nyata, ketika kita berinteraksi sering terjadi suatu kondisi di mana kita saling beda pendapat ketika sedang membahas suatu tema pembicaraan. Perbedaan itu biasanya disebabkan oleh perbedaan paradigma berfikir atau perbedaan sudut pandang dalam mengapresiasi tema tersebut. Itu semua tidak terlepas dari kedewasaan berfikir, wawasan yang dimiliki, kondisi emosi saat itu dan tujuan dalam pembahasan.

Diskusi atau debat di dunia maya sangat mengasyikkan. Kita bisa memilih peran sesuai yang kita inginkan, mau jadi yang pro, kontra atau sekedar menyimak untuk mendapatkan tambahan wawasan dari diskusi tersebut.

Hal lain yang menguntungkan, kita bisa mengatur emosi, bisa berhenti kapan kita inginkan.

Sebagaimana sarana lain, internet juga berfungsi sebagaimana senjata lainnya, manfaat atau mudharatnya tergantung pada siapa yang menggunakannya, tingkat keahlian dalam teknologinya dan niat dan tujuannya.

Dalam diskusi dan debat di dunia mayapun, kalau kita menginginkan kebaikan tentunya harus menggunakan cara yang sudah dituntunkan.

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalanNya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk." Terjemah Al Quran surat An Nahl ayat 125.

Dalam dunia nyata maupun maya, kita akan mendapat kebaikan ketika kita berjalan dan bertindak sesuai dengan tuntunan yang diberikan oleh yang menciptakan dan menghidupkan kita.  

Thursday, February 20, 2014

TIPS MERAWAT ORANG TUA

Merawat orang tua berarti kesempatan anak untuk berbuat baik kepada orang tua, baik sebagai upaya untuk membalas kebaikan mereka walaupun tidak akan pernah lunas terbayar, maupun sebagai peluang untuk meningkatkan derajat di hadapan Allah dan mendapat pahala dan balasan kebaikan yang banyak, dengan melaksanakan perintahNya, birrul walidain (berbuat baik kepada orang tua).

Tidak semua kita mendapat kesempatan merawat orang tua di masa udzurnya.

Banyak hal yang menyebabkan kehilangan kesempatan itu, misalnya orang tua sudah meninggal, jarak tempat tinggal yang berjauhan, orang tua lebih memilih dirawat atau ikut tinggal dengan kakak atau adik kita.

Bersyukurlah ketika mendapat kesempatan untuk merawat mereka, baik sebentar dan sekali-kali ataupun lama karena mereka memilih kita untuk menemaninya di hari tua.

Banyak hal-hal yang membuat ketidaknyamanan ketika merawat orang tua yang sudah udzur, antara lain:

* orang tua sakit dan tergantung pada pihak lain, misalnya pasca stroke yang biasanya lumpuh sebelah atau seluruhnya, keropos tulang, rematik, dan lain-lain.

* orang tua yang pikun, kadang pergi dan tak tahu jalan pulang, sudah makan bilangnya belum, dan lain-lain.

* orang tua dengan karakter tertentu, seperti pengeluh, sulit berterima kasih, ikut campur rumah tangga anak,
mudah tersinggung, terlalu pendiam, dan lain-lain.

* anak dan menantu bekerja di luar rumah, masih memiliki bayi atau balita.

* ekonomi sulit.

Beberapa contoh di atas sering menimbulkan ketidaknyamanan, seperti:

> orang tua merasa kurang diperhatikan anaknya, padahal anak merasa sudah cukup memberikan perhatian di sela-sela kesibukannya mengurus keluarga dan karirnya.

> orang tua merasa membebani, padahal anak sama sekali tidak merasa terbebani.

> sering terjadi kesalah fahaman, karena komunikasi yang terkendala kurangnya pendengaran orang tua, membuat anak malas berkomunikasi, sekedar mengangguk atau menggeleng, sedang orang tua merasa diabaikan dan merasa diri tak berguna dengan sikap seperti itu, jadi kesepian.

> dan lain-lain.

Ketika kita tidak mampu mensiasati berbagai kendala itu, bisa jadi kesempatan kita untuk beramal sholeh justru menjadi amal salah, bukan pahala dan keberkahan yang kita dapat, justru memperberat timbangan dosa.

Beberapa tips sederhana berikut, semoga bisa membantu:

1. Posisikan diri kita sebagai orang tua, apa yang kita inginkan anak-anak melakukan untuk kita, maka perlakukan mereka seperti itu. contoh:
- kita senang jika anak-anak menyapa kita setiap hari.
- kita senang jika anak-anak berwajah manis ketika berkomunikasi.
- kita senang jika anak-anak memperhatikan makanan kita seperti dulu kita mengkhususkan makanan mereka saat bayi.
- kita senang jika mereka menyentuh kita, apakah itu sekedar memegang atau memijit sayang.

2. Ketika menghadapi orang tua yang agak rewel, ingatlah, betapa rewelnya kita dulu saat dalam perawatan dan sangat tergantung pada mereka.

3, Ketika kita merasa lelah, ingatlah, mereka lelah mengurus kita sepanjang usia kita, sedang sebaliknya?

4.Ingatlah, ini kesempatan langka! Tidak semua anak mendapat kesempatan beribadah dengan merawat orang tua.

***

@ " Dan sembahlah Allah dan jangan kamu mempersekutukanNya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua . . ." Terjemah Quran surat An Nisa ayat 36

@" . . . dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak, jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam perawatanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah engkau membentak keduanya dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik." Terjemah Quran surat Al Isra ayat 32.

@" Dan kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua orag tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu." Terjemah Quran surat Luqman ayat 14.

@ " Keridhoan Allah ada pada keridhoan orang tua dan kemurkaan Allah ada pada kemurkaan orang tua." HR Tirmidzi.

Wednesday, February 19, 2014

MENJADI PENGEMIS UNTUK JADI RELAWAN

Seorang sahabat mengusikku dengan komentarnya tentang relawan. Jujur, setelah membaca komentarnya aku berkaca diri, apakah aku termasuk di dalamnya?

Menurut beliau, kalau kita ingin menjadi relawan, sebaiknya mencoba menciptakan bidang usaha tertentu, sehingga tidak perlu meminta sumbangan dari pihak manapun, semua sumber dana dari hasil usaha sendiri, karena menurut beliau, meminta identik dengan mengemis terhadap sesama manusia.

Setiap kita bisa berpendapat tentang sesuatu, dan pendapat itu menggambarkan pemahaman tentang sesuatu itu.
Ini yang mengusikku, masalah pemahaman.

Mengapa aku terusik?

Karena menyangkut keimanan, dan aku tak ingin ada kecacatan dalam imanku, karena akan membahayakan keselamatan kehidupanku, dunia dan akherat.

***

"Hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMu kami mohon pertolongan." terjemah Surat Al Fatihah ayt 5.

Dalam tafsirnya, Fi-hilalil Qur'an, Sayyid Quthb mengatakan bahwa ayat ini merupakan prinsip yang memplokamirkan lahirnya kemerdekaan umat manusia yang sempurna dan menyeluruh. Jika hanya Allah semata yang diibadahi, dan hanya Allah semata yang dimintai pertolongan, maka hati nurani manusia telah terbebas dari pelecehan berbagai sistem, kondisi dan individu, sebagaimana terbebas pula dari pelecehan berbagai dongeng, khayal dan khurafat.(Tafsir Fi-Zhilalil Qur'an jilid 1 hal.31-32)

***

". . .Bertaqwalah kepada Allah yang dengan namaNya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu." Terjemah Quran surat An Nisa ayat 1.

***

". . .Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertaqwalah kepada Allah, sungguh Allah sangat berat siksaNya." Terjemah QS Al Maidah ayat 2.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, ayat ini mencakup semua jenis bagi kemaslahatan para hamba, di dunia maupun akherat, baik antara sesama ataupun dengan Rabbnya. Sebab seseorang tak luput dari dua kewajiban, yaitu kewajiban individualnya terhada[p Allah dan kewajiban sosialnya terhadap sesama.
Selanjutnya beliau memaparkan bahwa hubungan seseorang dengan sesama dapat terlukis pada jalinan pergaulan, saling menolong dan persahabatan. Hubungan itu wajib terjalin dalam rangka mengharap ridha Allah dan menjalankan ketaatan kepadaNya. Itulah puncak kebahagiaan seorang hamba. Tidak ada kebahagiaan kecuali dengan mewujudkannya, dan itulah kebaikan serta ketakwaan yang merupakan inti dari agama ini. ( AR-Risalah at-Tabukiyyah hal. 30 )

***

Akhirnya akupun mantap dengan pendapatku, bahwa meminta kepada sesama manusia tidak membuat cacat keimananku kepada Allah, selama harapan itu hanya kepadaNya. Minta tolong kepada manusia sebatas ikhtiar mencari jalan keluar dan bukti bahwa kita sungguh-sungguh berdoa dan berharap hanya kepada Allah.

Kalau meminta kepada manusia dikatakan pengemis, tak ada salahnya, karena mengemisnya bukan untuk merendahkan diri, tapi justru mengangkat diri ke derajat yang lebih tinggi dihadapan Allah, karena melaksanakan perintah saling menolong dalam kebajikan.

Dan lagi, tidak semua orang yang mampu secara finansial punya kesempatan seperti relawan, jadi apa salahnya disinergikan untuk membantu sesama yang membutuhkan uluran tangan kita sebagai perpanjangan tangan pertolongan Allah untuk mereka?

Tak ada pemisahan antara keimanan kepada Allah dengan hubungan sesama manusia, karena hubungan sesama manusia yang didasari tuntunan Allah adalah manifestasi dari iman kepada Allah.






Tuesday, February 18, 2014

MALU

"Stres saya jadi guru SMA sekarang, Mi."

"Kenapa Bu Nina, apa karena program sekarang lebih rumit?"

"Kalau itu sih, nggak terlalu masalah. Apalagi yang sudah sertifikasi."

"Jadi masalah apa yang bikin stres? Gaji sudah memadai, bahkan guru sekarang seperti dimanjakan dengan adanya tunjangan untuk yang sudah sertifikasi."

"Kalau dibandingkan dengan guru sebelum tahun dua ribuan, guru sekarang memang kehidupan ekonominya jauh lebih baik, tapi masalah yang dihadapi jauh berbeda, terutama masalah moral anak-anak sekarang."

"Di mana bedanya?"

"Seingat saya, saat masih sekolah menengah, kami tak ada yang berani melawan guru, begitu menghormati dan segan dengan sosok guru. Juga masalah pergaulan, tak sebebas sekarang, mungkin karena kemajuan teknologi yang sudah merambah ke mana-mana ya, jadi pengaruh negatif itu mudah sekali menular."

"Masalah apa yang paling bikin stres Bu Nina?"

"Masalah pergaulan antar lawan jenis, lebih tepatnya masalah pacaran, bahkan ada beberapa siswa yang belum lulus SMA, tapi sudah mendapat gelar MBA."

"Hah! MBA apa maksudnya?"

"Ah Umi, masa nggak tau? MBA, married by accident, menikah karena kecelakaan, hamil duluan."

"Oo, Umi kira ada program baru, SMA sambil kuliah, kan enak, bisa hemat waktu he he he."

"Ah, Umi ada-ada aja."

"Memang beda banget anak sekarang. Jaman Umi dulu, kalau SMP ketauan pacaran, waaaah, bakalan malu pake bangets, lah anak sekarang, SMP belum punya pacar justru sangat malu, seolah diri merasa nggak laku, kok seperti jualan ya?"

"Itu dia Umi, sepertinya pangkal masalah ada di situ, ketiadaan rasa malu. Karena rasa malu yang bisa mencegah seseorang melakukan sesuatu."

"Sepertinya ukuran rasa malu semakin bergeser. Dulu, jika seorang cewek ketahuan naksir cowok, rasanya malu, seperti nggak punya harga diri, sekarang cewek nembak duluanpun sepertinya nggak masalah."

"Dulu, jika seorang wanita hamil di luar nikah, maka keluarga akan mengungsikannya, karena itu aib luar biasa. Sekarang, anak hamil  segera dinikahkan bahkan dengan pesta besar-besaran."

"Dulu, pacaran sebatas surat-suratan, trus apel ke rumah cewek, ngobrol di rumah di temani orang tua."

"Sekarang, Mi, hhhhh bikin gerah! Saya yang jadi guru malu luar biasa, bagaimana nggak? Di kelas, di angkot, di jalan, tingkah anak-anak ABG itu sangat meresahkan, berani sekali mereka berpegangan, bahkan berciuman tanpa malu di lihat orang lain. Bagaimana lagi kalau hanya berduaan?"

"Apa mereka tidak tahu bahwa itu dosa?"

"Menurut saya, bukan nggak tau, Mi. Tapi nggak mau tau!" bu Nina tampak geram.

"Belum tentu lho, Bu Nina. Bisa jadi mereka memang belum ada yang memberi tau, mereka hanya mencari tau sendiri dari sarana informasi yang tersedia."

"Saya sebagai guru, sudah sering memberi tahu, bahkan mendiskusikan dengan mereka, tapi tetap saja mereka melakukannya."

"Bu Nina sudah memberi tau, tapi guru lain? Apakah juga orang tuanya juga sudah membimbing mereka? Karena pada kenyataannya, tidak semua orang tua memahami masalah hukum dan bahayanya pacaran bagi anak-anak mereka, karena bisa jadi mereka dulu juga pacaran."

"Sebenarnya, tanggung jawab siapa semua ini?"

"Tidak bisa hanya diserahkan pada salah satu pihak. Semua punya tanggung jawab. Orang tua, sebagai pendidik pertama dan utama seharusnya sudah menanamkan keimananan dan pendidikan syariat kepada anak-anaknya sebelum mereka baligh, sehingga pada saatnya, mereka sudah tahu hukum halal, haram dan dengan keimanan yang memadai mereka bisa menjaga diri.
Guru,sebagai orang tua di sekolah, mendidik dan mengawasi mereka ketika di sekolah, pemerintah yang berwenang membuat peraturan dan masyarakat yang juga berkewajiban mengawasi dan membimbing mereka dengan berbagai sarana yang ada."

"Idealnya begitu ya, Mi?"

"Tapi pada kenyataannyakan nggak seideal itu, ya sudahlah, apa yang bisa kita jangkau, kita lakukan, terutama kita sebagai orang tua dan guru. Ketika kita berusaha sungguh-sungguh, insayaallah akan dimudahkan olehNya, seandainyapun hasilnya tak sesuai harapan karena begitu banyaknya tantangan dari luar, setidaknya kita sudah lepas kewajiban sambil terus evaluasi atas upaya yang sudah kita lakukan selama ini."

"Segala daya upaya harus kita lakukan untuk menggalang kerjasama dengan segenap unsur bangsa, karena kita tidak sedang membicarakan anakku atau anakmu, tapi anak kita, penerus generasi bangsa."

***

@ "Dan janganlah kamu mendekati zina, itu sungguh suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk." terjemah Al Quran surat Al Isra ayat 32.

@"Dan janganlah salah seorang dari kalian berdua-duaan dengan wanita, karena syetan akan menjadi yang ketiganya." HR Ahmad dan Tirmidzi

@ "Tidaklah jadi berzina seorang pezina ketika ingin berzina, sementara dia masih beriman. Dan tidaklah jadi minum khamer seorang peminum khamer ketika akan meminumnya sementara dia masih beriman. Dan tidaklah jadi mencuri seorang pencuri ketika akan mencuri, sementara dia masih beriman." HR Bukhari

@ "Di antara perkataan para nabi terdahulu yang masih diketahui banyak orang pada saat ini adalah jika engkau tidak lagi memiliki rasa malu, maka berbuatlah sesuka hatimu." HR Bukhari

@ "Rasa malu itu hanya mendatangkan kebaikan." HR Bukhari & Muslim

@ Dari Salim bin Abdullah, dari ayahnya, ia berkata,"Rasulullah SAW lewat di hadapan seorang Anshor yang sedang mencela saudaranya karena saudaranya pemalu, maka Rasulullah SAW berkata,'Biarkan dia! Sesungguhnya malu itu sebagian dari iman." HR Bukhari.

Wednesday, February 12, 2014

SETORAN

"Umi, siapa yang berangkat sekolah subuh-subuh?" tanya salah satu tetangga ketika belanja sayur di pagi hari.

"Husna. Bukan sekolah, tapi setoran, memang jadwalnya ba'da subuh."

"Setoran apa, Mi?"

"Setor hafalan Al Quran, di Rumah Tahfidz."

"Di mana Mi, Rumah Tahfidznya?"

"Di Blok I, tempat ustadz Kholdun."

"Anak Umi mau jadi Hafidz Quran semua?"

"Insyaallah, doakan ya?"

"Kok Husna nggak ke pondok, seperti kakak kakaknya?"

"Husna lebih nyaman menghafal di rumah, ya biarlah, setiap anak beda-beda gaya belajarnya, sebagai orang tua kita berusaha memotivasi, dan memfasilitasi."

"Bisa ya Mi jadi Hafidz, tapi nggak mondok?"

"Insyaallah bisa, asal sungguh-sungguh dan tekun."

"Umi nggak khawatir tentang masa depan anak-anak?"

"Maksudnya?"

"Apa mereka nggak tertinggal pelajaran umum kalau waktunya banyak untuk menghafal?"

"Nggak, menurut penelitian dan terbukti anak-anak Umi yang sudah hafidz, kekhawatiran itu tidak terjadi, bahkan mereka bisa menyusul pelajaran yang tertinggal dengan baik."

"Bagaimana dengan masa depan dan karir mereka nantinya?"

"Allah akan memuliakan mereka, tak ada sedikitpun keraguan tentang itu."

***

@ "Sebenarnya , (Al Quran) itu adalah ayat-ayat yang jelas di dalam dada orang-orang yang berilmu. Hanya orang-orang yang dzalim yang mengingkari ayat-ayat kami." Terjemah Al Quran surat Al Ankabut ayat 49.

@ "Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Kitab Allah (Al Quran) dan melaksanakan shalat dan menginfakkan sebagian rizki yang kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan pahalaNya kepada mereka dan menambah karuniaNya. Sungguh Allah Maha Pengampun dan Maha Mensyukuri." Terjemah Al Quran surat Fathir ayat 29-30

@ "Sebaik-baik orang di antara kalian adalah yang mempelajari Al Quran dan mengajarkannya." (HR Bukhari)

@ "Orang-orang yang tidak mempunya hafalan Al Quran sedikitpun, bagaikan rumah kumuh yang akan runtuh." (HR Tirmidzi)

@ "Siapa yang membaca Al Quran, mempelajarinya dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya, pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan) yang tak pernah didapatkan di dunia. Keduanya berkata,'Mengapa kami dipakaikan jubah ini?' dijawab,'Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Quran.'" (HR AlHakim)


Tuesday, February 11, 2014

RIYA

"Mi, saya nggak usah ngisi amalan yaumian ya?"

"Kenapa?"

"Ehmm, saya takut riya, Mi, amal ibadah ditunjukkan ke orang lain."

"Kalau yang lain gimana? Keberatan nggak kalau pengajian kita memberlakukan lembar amalan yaumian?"

"Kalau saya malah seneng Mi, termotivasi amalan teman-teman yang lebih baik."

"Saya oke aja Mi, walaupun sering malu he he, karena belum bisa sebaik teman-teman yang lain."

"Ehmm, maaaf Mi, apakah hal seperti ini dicontohkan Rasulullah?"

"Program ini diadakan untuk memotivasi kita semua agar bersemangat meningkatkan ibadah, fastabiqul khoirot, berlomba-lomba dalam kebaikan. Dengan mengisi lembaran yang sudah disediakan setiap pekan, kita akan melihat perkembangan ibadah kita, bertambah baik, stagnan atau malah bertambah buruk."

"Apa nggak membuat kita riya, Mi?"

"Sekalian kita melatih hati kita, agar terbiasa beramal dengan ikhlas, diketahui orang lain ataupun tidak."

"Ini nyunnah nggak Mi?"

"Di jaman Rasulullah shalallahu alaihi wassalam, ya nggak pakai lembaran kertas seperti sekarang, tapi secara substansi, diceritakan bagaimana sahabat Umar bin Khattab berusaha mendahului sahabat Abu Bakar Ashshiddiq dalam kebaikan, tapi tidak pernah berhasil."

"Sepakat Mi, kita laksanakan program amalan yaumian ini untuk menambah semangat."

***
# amalan yaumian = amal harian, biasanya berisi poin-poin : berapa kali dalam sepekan tilawah Al Quran, sholat Dhuha, sholat Lail, puasa sunnah, dzikir pagi dan sore, silaturahim dll

@   Al Bazzar meriwayatkan dari Abdur Rahman bin Abu Bakar: Rasulullah melaksanakan sholat subuh, kemudian menghadapkan wajahnya kepada para sahabat.

Rasulullah saw : "Siapa diantara kalian yang puasa hari ini?"

Umar bin Khattab :"Wahai Rasulullah, saya tidak berniat puasa semalam, maka saya berbuka hari ini."

Abu Bakar :"Alhamdulillah saya semalam berniat puasa dan saya kini sedang berpuasa."

Rasulullah Saw:"Lalu adakah diantara kalian yang mengunjungi orang sakit hari ini?"

Umar :"Kita belum memasuki siang, lalu bagaimana kita bisa mengunjungi orang yang sakit?"

Abu Bakar:"Saya mendengar saudara saya Abdur Rahman bin Auf sakit, maka sembari berangkat saya melewati rumahnya untuk melihat bagaimana kondisinya di pagi ini."

Rasulullah Saw:"Lalu siapakah di antara kalian yang memberi makan orang  miskin di pagi ini?"

Umar  :"Kami shalat ya Rasulullah, dan matahari belum juga terbit."

Abu Bakar :"Saat memasuki masjid saya dapati seseorang meminta-minta. Saya dapatkan sepotong roti dari Abdur Rahman, saya ambil roti itu dan saya berikan kepada orang itu."

Rasulullah Saw :"Kabar gembira bagimu dengan surga."

Kemudian Rasulullah Saw mengatakan sesuatu yang membuat Umar ridha. Dan Umar mengatakan bahwa setiap kali dia menginginkan sebuah kebaikan, dia selalu terkalahkan oleh Abu Bakar.

(Sumber: Terjemah Tarikh Khulafa, Imam As-suyuthi hal 59-60)