Tuesday, April 3, 2018

Merindukan Sosok Abu Bakar ra. Zaman Now

Bersama keluarga NU

Sosok santun penuh kasih sayang, tentu sangat dirindukan rakyat untuk pemimpinnya, di segala zaman. Kelembutan yang dipadu dengan ketegasan dalam menjaga perundangan yang adil untuk semua kalangan.

Alkisah, Abu Bakar sahabat tercinta dari manusia termulia, Muhammad saw, adalah manusia dengan karakter yang santun peuh kasih sayang. Selain gelar ash-shiddiq yang disandangkan karena kejujurannya, beliau juga bergelar bapaknya para yatim dan janda tersebab begitu pemurahnya beliau terhadap dua golongan  ini.

Saat di mana Islam belum berjaya, muslim masih menjadi komunitas pinggiran dan hidup penuh himpitan, Abu Bakar tampil menyantuni kaum dhuafa terutama membebaskan para budak muslim yang diperlakukan sangat tidak manusiawi karena keimanannya.

Saat Islam memiliki pengaruh di bawah kepemimpinan Rasulullah saw, Abu bakar adalah pendamping terdekatnya dan menggantikan menjadi imam sholat saat beliau sakit menjelang kewafatannya.

Saat sang Mustofa dipanggil kekasihnya, kembali kepangkuan-Nya, Abu Bakar tampil sebagai pemimpin yang penuh kasih sayang, melayani rakyatnya dengan sepenuh cinta dan menjadi perwira gagah saat menghadapi para murtadin yang menggerogoti wibawa Islam, tetapi melindungi non muslim taat yang ada dalam wilayah kekuasaannya.

Benar, seorang yang baik, penyayang, membutuhkan kekuatan serta kekuasaan untuk lebih banyak menebarkan kebaikan dan kasih sayangnya kepada lebih banyak lagi makhluk ciptaan-Nya.

Kini, kita butuh pemimpin layaknya Abu Bakar Ash-syiddiq untuk bisa mengatur segala urusan dengan keadilan, melindungi yang lemah, penuh kasih sayang dan cinta terhadap rakyat kecil, tegas terhadap pelanggar hukum.

Walau sosok itu tak utuh sempurna, setidaknya dia yang paling banyak memiliki ciri-ciri keutamaan Abu Bakar di antara calon pemimpin yang bisa dipilih, karena...kita hanya bisa memilih dari yang disediakan oleh sistem yang berlaku.
Bersama Muslimat NU

4 Hal yang perlu kita perhatikan saat memilih pemimpin yang kita harap ada karakter Abu Bakar ra. dalam dirinya:

1. Beriman dan takut kepada Allah, karena hal ini yang membuatnya merasa diawasi terus-menerus dan mencegahnya dari pelanggaran terhadap aturan Allah. Salah satu cirinya adalah dekat dengan aktivitas di masjid, rumah Allah.

2. Berjiwa pendidik, penuh cinta dan perhatian. Hal ini bisa kita lihat dari sikap santunnya, juga kiprahnya selama ini. Alumni FKIP walau tidak tuntas meraih gelar sarjananya, pendiri lembaga pendidikan, seorang ustadz yang santun untuk kalangan muda, dewasa, tua, pria, wanita.

3. Memiliki kapasitas untuk mengemban amanah kepemimpinan. Berlatar belakang pendidikan ilmu pemerintahan, menjadi aleg propinsi satu periode dan anggota DPD 2 periode, tentu menjadi modal yang lumayan berbobot untuk melanjutkan kepemimpinannya di pemerintahan.

4. Dekat dengan masyarakat yang dipimpinnya. Pergaulan di berbagai lapisan masyarakat tentu membuatnya paham kondisi real masyarakat yang akan diayominya, insyaallah.
Bersama tokoh adat Kampung Mataram Ilir

Eh, hampir saja saya lupa memberitahukan, siapa sosok yang sedang dibicarakan.

Beliau adalah Ahmad Jajuli, cawagub Lampung dari paslon no 4.

Dengan harapan untuk Lampung maju, sebagai seorang yang mengenalnya, saya mendoakan dan mendukung beliau.

Bagaimana dengan teman-teman?


Monday, March 5, 2018

Amal Unggulan Bilal, Sang Muadzin Rasulullah Saw.


Awalnya, Bilal adalah budak milik sejumlah orang dari Bani Jumah di Mekah. Berita-berita tentang Nabi Saw. terdengar di telinga Bilal. ia mendengar Umayah bin Khalaf --salah seorang pemimpin Bani Jumah yang dituakan bersama sejumlah orang dari kabilahnya membicarakan tentang Rasulullah Saw. dengan hati penuh amarah dan kebencian.

Meski demikian, mereka sedikitpun tidak mengingkari bahwa Nabi Saw. adalah sosok yang amanah, ksatria, memiliki akhlak baik, jujur dan berakal cemerlang. Semua itu didengar Bilal, hingga ia merasa bahwa agama tersebut agama kebenaran dan Nabi Saw merupakan perahu keselamatan yang diutus Allah di tengah-tengah umat, untuk mengentaskan mereka dari lumpur jahiliyah menuju cahaya tauhid, selanjutnya menuju surga Ar-Rahman.

Bilal menerima seruan kebenaran itu dan melapangkan hati secara keseluruhan untuk menerima cahaya yang disampaikan Rasulullah Saw. dari sisi Rabb. Ia Iantas pergi menemui Nabi dan menyatakan diri masuk Islam, hingga merasa seakan-akan ia baru dilahirkan pada saat itu.
Ibnu Mas'ud ra. meriwayatkan, Bilal merupakan satu dari 7 orang yang pertama menampakkan keislamnya, selain Rasulullah Saw. Abu Bakar, Ammar, Sumayyah, Miqdad dan Shuhaib. Rasulullah Saw. dilindungi Allah melaui sosok pamannys, Abu Bakar melalui kaumnya, sedang yang lain mendapat siksa dari kaum musyrikin.

Kaum musyrikin mengetahui berita keislaman Bilal, dan tak pelak, mereka menimpakan siksa kepadanya tanpa mempedulikan  hubungan kerabat ataupun mengindahkan perjanjian.

Umayah bin Khalaf bin Wahab bin Hudzafah bin Jumah menyeret Bilal kala hari mulai terik, lalu dibaringkan di atas pasir yang panas, setelah itu Bilal ditindihi batu besar tepat di dada. Lalu Umayah berkata, ’Demi Allah, kamu akan terus seperti .ini sampai kamu mati, kecuali mau mengingkari Muhammad, menyembah Lata dan Uzza.’
Di balik siksaan yang dirasakan itu, Bilal tetap mengucapkan, ’Ahad, ahad.” Baginya, tak mengapa disiksa, selama karena Allah, di jalan Allah.

Suatu ketika, Abu Bakar melintas dan melihat Bilal tengah disiksa di pasir Mekah yang begitu panas menyengat. Dengan cepat, Abu Bakar segera bertindak dan melikuidasi seluruh perdagangan miliknya, selanjutnya membawa sejumlah uang untuk membeli budak-budak yang memeluk Islam untuk dimerdekakan, khawatir jika agama mereka terkena fitnah.

Begitu banyak keistimewaan Bilal sebagai bagian dari para sahabat Rasulullah Saw. Yang paling terkenal adalah, sebagai muadzin.

Bilal terus mengumandangkan adzan untuk Rasulullah Saw. sepanjang hidup. Saat Rasulullah Saw. pulang ke haribaan Allah dan waktu shalat tiba, Bilal mengumandamgkan adzan di tengah kerumunan orang, saat itu Nabi Saw. masih ditutupi kain dan belum dimakamkan. Saat sampai pada kalimat, "Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah," air mata Bilal berderaian hingga suaranya tersumbat ditenggorokan, kaum muslimin pun larut dalam tangisan dan kesedihan. Setelah itu, Bilal
mengumandangkan adzan selama tiga hari Iamanya. Setiap kali sampai pada kalimat, "Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah,” Bilal menangis dan membuat semuanya ikut menangis. Saat itulah Abu Bakar, khalifah Rasulullah Saw. meminta Bilal untuk tidak lagi mengumandangkan Adzan karena tak kuasa meneruskan sejak  Rasulullah Saw. telah tiada.

Bilal meminta izin kepada Abu Bakar untuk pergi ke Syam untuk berjihad dan menjaga perbatasan. Abu Bakar Ash-Shiddiq sangat mencintai Bilal. la pada mulanya ragu untuk melepas kepergian Bilal, hingga Bilal berkata padanya, "Jika engkau dulu membeliku untuk diri pribadi, silahkan engkau pertahankan aku di sini. Tapi jika engkau membeliku karena Allah, biarkan aku berbuat sesuatu untuk Allah."

Hingga batas ini, sulit sekali menahan air mata haru saat membaca kisah beliau. Begitu besar kecintaan yang terjalin antara para sahabat.

Ada satu keistimewaan amal Bilal yang menjadi salah satu sebab keistimewaannya sebagai calon penghuni surga.

Abu Hurairah ra. meriwayatkan, "Nabi Saw. berkata pada Bilal seusai shalat Subuh, "Hai Bilal, beritahukan padaku, apa amalan dalam Islam yang paling kamu harapkan pahalanya. Sungguh, aku mendengar suara detak kedua sandalmu di surga.’ Bilal berkata, ’Tiada amalan yang Iebih aku harapkan pahalanya melebihi setiap kali aku bersuci pada siang dan malam, aku selalu shalat dengan wudhu itu seperti yang ditakdirkan untukku." (Muttafaq 'alaih)
Sumber: Biografi Sahabat Nabi  (Syaikh Mahmud Al-Mishri)

Thursday, July 28, 2016

Umar bin Khattab, 6 Tahun Sebelum Masa Kenabian

Aku tak menginginkan kerja yang lebih ringan, tapi tubuh yang lebih kuat.(Umar bin Khattab)

***

Di tempat terbuka ini (sebagai penggembala unta), kehidupan memberikan aku kejernihan pikiran, ketajaman penglihatan dan perasaan yang murni. (Umar bin Khattab).

*bandingkan dengan aktivitas kita sekarang!😕

***

Unta, akan bisa dikenali secara individual, masing-masing memiliki perangai, kebiasaan, kebutuhan dan kemampuannya sendiri. Setiap unta berkumpul pada kawanannya, tetapi tidak ada dua unta yang identik. Urus mereka sebagai kawanan, tapi lihatlah mereka sebagai individu. Berbuat baiklah sebagaimana ibu kepada anaknya.

Hal inipun berlaku kepada manusia. Hidupnya tak akan berkembang sampai mereka punya pemimpin yang mengurus urusan mereka. Barangsiapa yang memberontak, akan binasa. Serigala hanya menyerang domba yang sendirian.  Jika orang-orang bersatu, tiap orang tersebut akan memiliki sifat dan pikirannya sendiri. Mereka akan mengejar langkhnya sendiri, kepentingan dan apa yang diinginkannya. Tidak ada satupun yang bisa menggantikan yang lain. Jika tidak seperti itu, manusia tidak akan butuh kepada yangnlain. Tidak ada yang butuh apa yang dimiliki orang lain, maka, bersama-sama adalah bagaimana mengatur kepribadian mereka dan perbedaan mereka sehingga mereka bersatu. (Umar bin Khattab)

Thursday, June 9, 2016

Santri Google

Bolehkah Bulan Ramadhan kita sebut bulan tabdabbur?

Mau tanya ke siapa?

Anggap saja boleh, karena tidak bermaksud bid'ah, sekedar melihat kebiasaan atau ingin membiasakan.

Selain tilawah, tarawih dan dzikir, alangkah baiknya kalau kita menambahkan tadabbur sebagai salah satu agenda amalan ibadah Ramadhan, sebagai salah satu bentuk interaksi kita dengan Al-Qur'an.

Saat mentadaburi ayat-ayat Al -Qur'an, selain mushaf, kita juga butuh terjemah Al-Qur'an, Kitab Asbabunnuzul dan Kitab Tafsir. Alangkah baiknya kalau tadabbur kita lakukan dibimbing seorang guru yang memahami ilmu agama, seperti tafsir, hadits, dll. Tapi pada kenyataannya tidak semua kita berkesempatan menikmati kajian bersama guru, entah itu karena tidak tahu dimana bisa berguru, atau karena kesibukan kita sehingga tidak bisa menyediakan waktu khusus untuk itu. Tapi bukan berarti kemudian kita tidak perlu atau takut melakukan upaya sendiri. Mungkin kebutuhan kita akan tadabbur sebatas mencukupi pegangan dalam menjalani hidup bukan untuk bisa mengajarkannya kepada orang lain.

Dengan pertimbangan-pertimbangan itulah, daripada tidak sama sekali, tak ada salahnya kita mencoba "otodidak", belajar sendiri dengan membaca kitab-kitab tersebut di atas. Kalaupun belum punya, kita sudah dimudahkan dengan kecanggihan teknologi, mencari referensi secukupnya di internet, karena ternyata banyak dai-dai yang berbaik hati mempublish ilmunya ke internet dan kita bisa akses sesuai yang kita butuhkan. Jika berkesempatan bertemu pembimbing, maka manfaatkan untuk mendiskusikan tadabbur mandirinya.

"Santri Google!"

Abaikan olok-olok itu!

Allah Maha Berkuasa memberikan karunia-Nya dengan cara yang dipilih-Nya.

Wednesday, June 8, 2016

Wanita yang Iri dengan Laki-laki

Di zaman Rasulullah Saw. ada seorang wanita yang mewakili kaumnya untuk menyampaikan kepada beliau terkait kegalauan mereka atas beberapa syariat yang dianggap mengurangi peluang wanita untuk meraih pahala, salah satunya adalah pergi berperang.

Rasulullah menjawab bahwa ketaatan istri pada suami, selama dalam ketaatan kepada Allah, menyamai pahala itu semua.

Nah! Di bulan Ramadhan ini, biasanya wanita kecewa dengan kodratnya, mendapatkan haid, karena dengan begitu akan kehilangan mendapatkan pahala sholat, puasa dan tilawah, belum lagi harus membayar puasanya di bulan yang lain, berat, kan?
Kadang-kadang sering memaksakan diri, belum waktunya suci, sudah mandi, karena memang belum tuntas, kadang harus mandi wajib berulang-ulang.

Begitulah manusia, lebih melihat yang tidak bisa didapat dari pada yang sudah ada dan bisa diperoleh.

Mengapa kita tidak mau sedikit saja menggeser sudut pandang dan mensyukuri ketentuan Allah?

Kondisi haid bisa diibaratkan tubuh sedang dalam kondisi rentan, itu sebabnya diliburkan puasa agar lebih terjaga. Tidak puasa, ya gunakan kesempatan untuk memenuhi asupan, itu karunia Allah. Saya bukan termasuk orang yang bertoleransi dengan tidak makan walau haid untuk menghormati yang puasa. Pandai-pandai saja memilih waktu dan tempat agar tidak makan di hadapan yang berpuasa.

Takut ketahuan anak-anak?

Kalau memang harus ketahuan, justru kesempatan menjelaskan kepada mereka tentang syariat itu.

Tidak sholat?

Ya tidak apa-apa, kan tidak dosa? Justru dosa kalau tetap dilakukan. Bahkan untuk amalan yang sudah rutin kita lakukan, jika ada udzur yang menghalangi, maka pahala tetap mengalir walaupun kita tidak mengerjakannya.

***
Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, ”Sesungguhnya seorang hamba hanyalah akan diberi balasan sesuai amalan yang ia lakukan. Barangsiapa meninggalkan suatu amalan -bukan karena udzur syar’i seperti sakit, bersafar, atau dalam keadaan lemah di usia senja-, maka akan terputus darinya pahala dan ganjaran jika ia meninggalkan amalan tersebut.” Namun perlu diketahui bahwa apabila seseorang meninggalkan amalan sholih yang biasa dia rutinkan karena alasan sakit, sudah tidak mampu lagi melakukannya, dalam keadaan bersafar atau udzur syar’i lainnya, maka dia akan tetap memperoleh ganjarannya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا
“Jika seseorang sakit atau melakukan safar, maka dia akan dicatat melakukan amalan sebagaimana amalan rutin yang dia lakukan ketika mukim (tidak bepergian) dan dalam keadaan sehat.”[HR Bukhori no 2996]

Sumber: https://rumaysho.com/550-di-balik-amalan-yang-sedikit-namun-kontinu.html
***
Enak, tho?

Bagaimana dengan tilawah? Sayang banget, kan?

Kalau kita mengikuti pendapat yang tidak tilawah saat haid, maka kita bisa gunakan waktu yang harusnya  tilawah, ganti dengan aktivitas tadabbur, seperti membaca kitab tafsir, hadits atau buku-buku kajian dengan tema tertentu.

Selalu bersyukur dengan ketentuan Allah akan membuat kita hidup lebih bahagia.

Monday, June 6, 2016

Puncaknya adalah Taqwa

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (QS. Al-Baqoroh : 183)

Banyak amalan pendamping puasa yang dianjurkan dilakukan di bulan Ramadhan, antara lain:
1. Tilawah Qur'an
2. Tadabbur Qur'an
3. Infak & Sedekah
4. Shalat sunnah
5. Dzikir

Apa yang bisa pikirkan tentang hal ini? Menarik benang merah antara puasa-amalan pendamping-taqwa?

Ini bukan kajian yang bisa dijadikan referensi, hanya sekedar opini dari pikiran sederhana.

Setiap akan melakukan sesuatu, tujuan merupakan fokus utama. Apa makna dari sebuah perjuangan berat jika tujuan tak tercapai?

Gagal!

Inilah yang pernah dikhawatirkan oleh Rasulullah Saw, yang intinya, ada golongan dari umatnya yang tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan haus!

Naudzubillahi min dzalik!

Apa itu taqwa?

Sederhananya, taqwa adalah ketaatan pada Allah dan takut mendapatkan murka-Nya.

Artinya, kita harus fokus pada peningkatan kataqwaan dengan puasa dan amalan-amalan pelengkapnya.

Hidayah Allah akan sampai kepada kita, bisa dengan cara yang berbeda-beda, mungkin juga halnya dengan peningkatan ketaqwaan.

Mungkin kita akan merasakan semakin kenal dan dekat kepada Allah sehingganya semakin taat dan cinta kepada-Nya, dengan salah satu atau beberapa jalan berikut:

1. Saat merasakan menahan lapar dan haus atau kepayahan saat puasa, hati kita tergerak untuk mensyukuri segala kenikmatan yang selama ini kita terima tanpa diminta. Semakin bersyukur, semakin dekat, semakin merasakan ketergantungan dan semakin tumbuh rasa cinta, sehingga dengan ringan hati melakukan ketaatan kepada-Nya.

2. Dengan tilawah dan tadabbur, kita semakin memahami kedalaman agama ini, mengakui kebenaran dan kebaikan syariatnya dan bersemangat untuk mengamalkannya sebagai bentuk ketaatan kepada-Nya.

3. Dengan banyak berdzikir, hati merasakan kedekatan, ketenangan dan nikmatnya ketaatan sehingga selalu rindu untuk mengulang-ulang melakukannya.

4. Dengan bersedekah kita merasakan kenikmatan, kebahagiaan  dan bersyukur karena mendapatkan kesempatan untuk berbagi, dan itu semua akan mendorong untuk meningkatkan ketaatan.

Begitu banyak peluang menuju taqwa, ambil sebanyak-banyaknya untuk memperbesar kemungkinan mencapai tujuan.

Saturday, June 4, 2016

Perbedaan Syiar dengan Riya

Kadang kita membatalkan sebuah syiar karena takut riya.

Siapa yang dirugikan atas pembatalan itu?

Umat! Atau setidaknya segelintir orang yang kemungkinan terinspirasi dan termotivasi untuk melakukan kebaikan yang sama.

Sebenarnya, antara syiar dan riya bedanya sangat tipis, yaitu pada niat, dan yang tahu pasti tentang urusan ini hanya Allah dan pelaku, orang lain tidak bisa tahu kecuali hanya berprasangka.

Di sinilah sering terjadi pergolakan!
Di sinilah was-was dan bisikan-bisikan sedang bekerja mempengaruhi!
Hanya dengan bantuan Allah, yang membolak-balikkan hati, kita mampu selamat dari riya dan mensyiarkan kebaikan.

Final?

Tidak! Bisikan-bisikan itu terus hadir, bahkan sampai pada tahap evaluasi dari sebuah amal yang telah selesai.

Ok, kita hitung-hitungan:

1. Jika kita menunjukkan suatu kebaikan dengan niat riya, supaya mendapatkan pujian dan apresiasi positif dari orang lain, maka merugilah kita, karena kita hanya mendapatkan apa yang kita niatkan, kalaupun itu dikabulkan, karena tidak jarang, saat kita mengharap pujian atau ucapan terimakasih, justru cemooh yang didapat.

Bagaimana dengan orang lain yang menerima syiar kita?
Mungkin dia terinspirasi, mungkin juga tidak.
Jika ternyata ada yang terinspirasi, setidaknya hal itu menguntungkan orang lain yang mendapatkan nilai ibadah karena melakukan kebaikan karena terinspirasi.
Apakah kita tetap mendapatkan pahala karena menginspirasi, sedangkan  niat awalnya riya?
Wallahu'alam.

2. Jika kita membatalkan menunjukkan suatu kebaikan, mungkin kita selamat dari riya, mungkin kita jadi lebih tawadhu dan merasa tenang karena amal kita tersembunyi, tapi mungkin juga itu kemenangan musuh kita yang berbisik-bisik untuk menghalangi dakwah!

Bagaimana dengan orang lain?
Jelas merugikan orang lain yang seharusnya terinspirasi, sehingga umat pun kehilangan sebuah bentuk kebaikan, karena salah seorang darinya batal melakukan amal shaleh karena energi pemicunya mati. Sayang bukan, kalau kita berpeluang menjadi jalan hidayah seseorang tapi tidak kita lakukan? Sayang bukan, kalau di hadapan kita berkurang ajakan kebaikan dan lebih banyak propaganda keburukan? Bukankah seharusnya kita lebih mewarnai lingkungan dengan ajakan kebaikan?

3. Idealnya, kita bisa menunjukkan amal baik untuk menginspirasi dan memotivasi, sehingga akan muncul pernyataan dari yang memperhatikan,"Dia dengan kondisi seadanya bisa melakukan itu, kenapa saya tidak?"

Selain itu kita bisa meniatkannya sebagai bentuk rasa syukur dengan menunjukkan nikmat itu, agar kita selalu ingat, bahwa kebaikan yang kita lakukan merupakan karunia Allah.

Mental kita butuh dilatih untuk menghadapi pujian atau cercaan selama dalam kebaikan, agar seluruh hidup kita semata menghadap Allah dan mengharapkan hanya penilaian Allah.

Hayoooo! Tebarkan kebaikan untuk mengimbangi keburukan yang semakin mencemari lingkungan kita, baik di dunia nyata maupun media sosial.

Ringan Berinfak

Kapan kita merasakan sangat ringan untuk berinfak?

Saat sedang longgar dan banyak rizki atau sedang sempit?

Mari kita bandingkan!

Ketika sedang pengajian, ada kotak infak yang dipindah tangankan, sedang dalam dompet hanya ada selembar lima ribuan, sendiri tanpa teman. Apa yang kita lakukan? Membiarkan kesempatan kotak itu lewat atau dengan ringan hati memasukkan uang itu ke dalamnya? Nggak lucu, kan kalau tutup kotak dibuka, uang lima ribu kita masukkan dan mengambil tiga ribu sebagai kembalian?

Bagaimana jika di dompet hanya satu lembar 50 ribuan? Masihkan dengan ringan kita infakkan semuanya? Bagaimana jika 100 ribu atau 500 ribu?

Sepertinya akan sangat ringan jika uang itu hanya lima ribuan.
Menurut pandangan manusia, lima ribu ya lima ribu, tapi di hadapan Allah, infak lima ribunya orang yang hanya mempunyai uang lima ribu, berbeda nilainya dengan infak lima ribu orang yang memiliki 50 ribu atau 500 ribu. Sedang Allah memerintahkan kita berinfak dalam kondisi lapang maupun sempit.

Hmm, sepertinya sedikit hikmah dari sempitnya rizki mulai terkuak, perbanyak infak selagi sempit, bukan sekedar untuk mendapatkan balasan dunia yang sering terbukti datang berlipat-lipat, tapi sedang memanfaatkan peluang berinfak dengan seluruh harta yang kita punya, yang tentunya sangat istimewa nilainya di hadapan Allah.

Bersyukur atas segala kondisi itu memang...indah.

Dosa Ibarat Kotoran

Kalau boleh dianalogikan, mungkin dosa bisa kita anggap sebagai kotoran, itu sebabnya ada syariat istighfar, berharap Allah membersihkannya, ada juga musibah dan sakit sebagai alat menggugurkannya.

Jika di saluran air banyak kotoran, kemungkinan besar dia akan menghambat aliran, itu sebabnya kita perlu introspeksi diri, saat produktivitas amal sholeh menurun, bisa jadi karena semakin menumpuknya dosa-dosa.

Jika cermin kotor, dia akan menghambat masuknya cahaya sehingga menghalangi pantulan wajah kita, sebagaimana hati yang ternoda oleh bercak-bercak akibat dosa, dia akan terhalang untuk masuknya hidayah dan ilmu.

Saat rizki terasa sempit, mungkin juga tersebab dosa-dosa, karena Allah menjanjikan kelapangan bagi orang-orang yang bertaqwa.

#bukan untuk menghakimi, sekedar introspeksi diri.

Friday, June 3, 2016

Persiapan Memasuki Ramadhan

Sudah siapkah menyambut Ramadhan?

Hhhhh! Rasanya kok nggak pernah siap, ya?
Tapi bukan berarti tidak disiapkan!
Beda ya, antara merasa nggak siap dengan tidak disiapkan!

Sama halnya saat menghadapi ujian, tetap saja merasa nggak siap, walaupun sudah menyiapkan dengan segala kemampuan yang ada.

Setidaknya, Ramadhan tahun ini ada hal pokok yang sepertinya prioritas, yaitu menjalankan ibadah dengan tarwiyyah, ( kalau jamak disebut tarawih). Ini bukan bicara sholat sunah khusus di bulan Ramadhan, tapi tentang sifat ibadah di bulan penuh barokah ini.

Ternyata tarawih memiliki pengertian tenang, tidak tergesa-gesa.
Hal ini bisa kita terapkan pada semua ibadah Ramadhan, baik itu shalat, tilawah dan dzikir.

Bukan mengabaikan target kuantitas, tapi hendaknya ada peningkatan pada kualitas ibadah kita, agar bisa lebih menikmati dan memberikan dampak positif pada kejiwaan.

Jangan sampai kita termasuk golongan orang yang dikatakan Rasulullah Saw, yaitu orang yang berpuasa tetapi hanya mendapatkan rasa lapar.

Kondisi masyarakat kita sudah sangat darurat dari sisi kerusakan akhlak, ada baiknya bulan barokah ini kita bisa manfaatkan untuk lebih banyak menenangkan ruhani, banyak merenung dan menyadarihal-hal yang selamam ni tidak kita sadari, andil dalam proses kerusakan  akhlak.

Perbanyak istighfar, yang dengannya Allah berkenan memberikan ampunan dan jalan keluar dari permasalahan yang sedang kita hadapi.

Perbanyak shalawat dan mempelajari sirah nabi, agar kita layak memohon untuk mendapatkan syafaatnya.

Perbanyak doa untuk perbaikan bangsa ini.

Thursday, June 2, 2016

Ciri-ciri kebangkrutan


أَتَدْرُوْنَ مَا الْمُفْلِسُ؟ قَالُوْا: الْمُفْلِسُ فِيْنَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. فَقَالَ: إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ. فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ، أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

“Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?” Mereka menjawab: “Orang yang bangkrut di kalangan kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak pula memiliki harta/barang.” Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Namun ia juga datang dengan membawa dosa kedzaliman. Ia pernah mencerca si ini, menuduh tanpa bukti terhadap si itu, memakan harta si anu, menumpahkan darah orang ini dan memukul orang itu. Maka sebagai tebusan atas kedzalimannya tersebut, diberikanlah di antara kebaikannya kepada si ini, si anu dan si itu. Hingga apabila kebaikannya telah habis dibagi-bagikan kepada orang-orang yang didzaliminya sementara belum semua kedzalimannya tertebus, diambillah kejelekan/ kesalahan yang dimiliki oleh orang yang didzaliminya lalu ditimpakan kepadanya, kemudian ia dicampakkan ke dalam neraka.” (HR Muslim no. 6522)

Wednesday, June 1, 2016

Al Amin

Gelaran yang diberikan kepada Muhammad bin Abdullah, oleh masyarakat, sebelum diangkat jadi Rasul.

Salah satu alasan mengapa sosok pribadi terpercaya yang jadi al mustofa, manusia yang dipilih, bisa jadi terkait dengan kredibilitasnya. Untuk menjadi pemimpin, sepertinya hal ini menjadi salah satu faktor terbesar yang harus dipertimbangkan. Apalagi seorang utusan Allah, Sang Pemberi hidup, yang ghaib dan tak bisa divisualkan sosok-Nya.

Amanah, salah satu sifat yang harus ada pada seorang rasul, dan tentu saja itu sangat masuk akal, sehingga selayaknya manusia percaya dan mengikuti yang disampaikannya.

Dan sifat seperti itu juga seharusnya yang dicontoh pengikutnya, menjadi orang yang terpercaya oleh lingkungannya.

Monday, May 30, 2016

Prasangka kepada Allah

Mungkin kita sering mendengar hadits:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman,

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى

“Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku” (Muttafaqun ‘alaih).

Dan hadits singkat lebih mudah beredar, diingat dan digunakan, sayangnya pemahaman kita bisa salah jika hanya membacanya sekilas.

Pernah terfikir, begitukah? Enak banget, dong? Seolah Allah mengikuti semua persangkaan kita, termasuk semua mau kita? Padahal, pada kenyataannya, apa yang terjadi sering tak sesuai dengan harapan?

Di mana letak salahnya? Pemahaman kita, kah? Atau...?

Sampai kemudian membaca sebuah hadits qudsi yang lebih panjang  tentang prasangka kepada Allah.

Allah ta'ala berfirman,"Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, Aku bersamanya (dengan ilmu dan rahmah) bila dia ingat Aku. Bila dia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Bila dia menyebut nama-Ku dalam suatu perkumpulan, Aku menyebutnya dalammperkumpulan yang lebih baik dari mereka. Bila dia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Bila dia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika dia mendekat kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat. (HR Al-Bukhori 8/171)

Dan lebih dikuatkan lagi dengan :

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai. (Terjemah QS. Al-Isro ayat 7)

Hmm, semoga ada peningkatan dalam memahami hal tersebut, intinya Allah akan memberikan balasan sesuai dengan upaya yang kita lakukan.

Semoga kita jauh dari angan-angan, mengharapkan kemurahan Allah tanpa melakukan upaya apapun, sekedar membesar-besarkan prasangka dan mengikuti hawa nafsu kita.

Sunday, May 29, 2016

Anak Zaman

Ayahnya wafat saat dia dalam kandungan.

Disusui oleh wanita yang tidak melahirkannya.

Masa kecil dihabiskan bersama wanita yang bukan ibu kandungnya.

Itu fakta yang masyhur tentang Muhammad bin Abdulah bin Abdul Muthalib.

Mengapa begitu jauh dengan konsep ideal dalam mendidik anak?

Bukankah kita diperintahkan mengikuti jejak dan mencontoh kehidupan Rasululkah Saw? Apa kita juga harus menyusukan  anak pada orang lain dan menyerahkan pengasuhannya? Tidak kita didik sendiri?

Ssssat! Mari kita kritisi!

Bisakah kita memesan lahir dari rahim siapa, di zaman apa dan budaya yang sedang berkembang?

Demikian juga bayi Muhammad bin Abdullah.
Dia ditentukan lahir dari rahim seorang wanita bernama Aminah yang bersuamikan Abdullah bin Abdul Muthalib, yang hidup di zaman dengan budaya dan kebiasaan menyusukan bayi-bayinya kepada wanita yang hidup di pedesaan. Kehendak Allah, wanita beruntung itu bernama Halimatusysya'diyyah.

Mungkin perlu kita ingat, bahwa beliau diangkat jadi Rasul bukan saat kelahirannya, tapi di usianya yang ke 40an tahun. Jadi fokus keteladanan itu terutama pada apa yang diajarkannya setelah diangkat menjadi Rasul.

Saturday, May 28, 2016

Berinteraksi dengan Sunnah

1. Apa sih, sunnah?

Ada beberapa makna sunnah jika dilihat dari beberapa sudut pandang pembahasan.

Dalam pandangan ahli fiqh (menurut Imam Syafi'i) sunnah adalah produk Islam yang sudah jadi, terdiri dari hukum halal, haram, sunnah, mubah dan makruh.

Menurut ahli ushul fiqh, sunnah adalah sumber hukum Islam, yaitu Al Qur'an dan sunnah.

Ahli hadits mengatakan, sunnah adalah Al Hadist, yaitu semua perkataan, perbuatan, ketentuan dan persetujuan Rasulullah saw.

Tak ada pertentangan di dalamnya karena semua mengacu pada hal yang sama, yaitu petunjuk dari Rasulullah saw.

2. Bagaimana seharusnya kita berinteraksi dengan sunnah?

Yang pertama kita perhatikan adalah bagaimana berinteraksi dengan Al Qur'an, karena kehadiran Rasulullah saw. terkait erat dengan tujuan diturunkannya Al-Qur'an, bahkan dikatakan bahwa Rasulullah saw. adalah Al Qur'an berjalan, nilai-nilai Al Qur'an yang mewujud dalam sosok manusia.

Dilihat dari sisi pelaksanaan hukum, Al Qur'an terbagi menjadi dua:

1. Ayat-ayat yang terkait dengan hukum-hukum pribadi, yang pelaksanaannya bisa dilakukan individu tanpa menunggu jamaah, institusi atau undang-undang. Memahaminya juga tidak terlalu sulit, misalnya perintah untuk jujur, tawadhu, shalat, haji, menutup aurat, dll.
Memahaminya juga tidak terlalu sulit, dan lakukan yang sudah jelas/mudah.

2. Ayat-ayat yang pelaksanaannya terkait dengan jamaah/pemerintahan, misalnya yang terkait dengan hal yang sangat mendasar:
A. Ad-Dien, contohnya, untuk melaksanakan hukum murtad, maka hanya bisa dilakukan oleh pemerintahan resmi.
B. Akal, contohnya, untuk melaksanakan hukum menghilangkan akal disebabkan mabuk karena minuman keras, maka hanya bisa dilakukan oleh pemerintah.
C. Keturunan, contohnya, untuk melaksanakan hukum bagi pelaku zina, hanya pemerintah yang bboleh melakukannya.
D. Harta, contohnya, pelaksanaan hukum porong tangan bagi pencuri dilakukan oleh pemerintah resmi.
E. Nyawa, seorang pembunuh hukumannya adalah bunuh juga, tapi, ya nunggu pemerintah yang melaksanakan hukum Allah.

Ayat-ayat di kelompok kedua tidak akan bisa diterapkan oleh individu, kewajiban kita adalah mengupayakan agar orang-orang yang berwenang membuat undang-undang dan yang melaksanakannya adalah orang-orang yang paham hukum Allah. Jika tidak, selamanya hukum Allah tak akan wujud di bumi ini.

Tapi jangan risau, walaupun tidak berlaku di dunia, hukum
itu terus akan mengejar sampai akhirat, termasuk juga mungkin mengenai kita yang tidak peduli pada upaya mewujudkannya.

#catatan pengajian

Monday, December 21, 2015

Kisah Awal Dakwah Rasulullah Saw. (Serial sejarah akan berulang)

Membaca ulang kisah awal dakwah Rasulullah Saw.

Makkah merupakan pusat agama bagi bangsa di Arab. Di sana terdapat pengabdi Ka'bah dan pengurus berhala serta patung-patung yang dianggap suci oleh seluruh bangsa Arab, sehingga tidak mudah untuk  melakukan perubahan di sana.

Itu yang jadi pertimbangan, kenapa dakwah dilakukan secara sembunyi-sembunyi, tentunya berdasarkan wahyu Allah.

Namun akhirnya, beritanya sampai juga kepada kaum Quraisy. Hanya saja, mereka tidak mempermasalahknnya karena Rasulullah Saw. tidak pernah menyinggung agama mereka ataupun tuhan-tuhan mereka.

Tiga tahun berlalu, terbentuklah kelompok mukminin yang dibangun atas fondasi persaudaraan dan solidaritas serta penyampaian risalah dan pemantapan posisinya. Kemudian turunlah wahyu yang menugaskan beliau untuk berdakwah secara terang-terangan.

#Sejarah akan berulang, entah kapan dan di mana.

Bisa jadi kita di amanahi kondisi yang mirip Makkah saat itu. Di suatu daerah yang memiliki agama atau budaya yang begitu mengakar, sehingga tidak mudah menerima suatu ajaran baru yang dianggap bertentangan dengan yang ada.

Kita bisa mencontoh langkah-langkah beliau:
1. Membentuk komunitas
2. Tidak menyinggung keyakinan yang ada.
3. Tidak melakukan tindakan yang membuat marah, untuk menghindari tumbuhnya kebencian sebelum saatnya.
4. Terus bergerak sampai ada kesempatan untuk berdakwah lebih terbuka.

Membaca medan adalah sebuah kemampuan yang harus dimiliki untuk kesuksesan dakwah.

Monday, April 27, 2015

Rumah Yang Tak Dikunjungi

Masyaallah. . .ternyata sudah setahun lebih blog ini tidak dikunjungi.

Ha ha ha, mungkin ini efek terlalu banyak rumah, sehingga tidak semua diperlakukan dengan baik.

Biasa, alasan klise, tidak tertangani.

Kenapa juga punya rumah banyak-banyak? Seperti pejabat yang kebanyakan uang? Rumahnya di mana-mana, tapi tidak sempat menikmatinya. Ups! Kok malah ngomongin orang lain?

Kenapa ya, dulu kok buat blog banyak-banyak?

Di ingat-ingat, waktu itu sedang semangat-semangatnya menulis. Apapun bisa jadi ide tulisan. Itu sebabnya perlu membuat banyak blog, dengan tujuan membuat kumpulan tulisan per tema. Blog gratisan juga, kok.

Siapa tahu suatu saat ada kesempatan diterbitkan dalam sebuah buku sesuai tema, jadi nggak repot memilah-milahnya, seperti yang terjadi pada buku pertama. Membutuhkan energi lumayan untuk memilahnya dari blog yang isinya campuran dan berisi lebih dari 600 judul tulisan.

Tapi, sekali lagi masalah konsistensi yang masih terus dilatih. Apalagi kalau sudah bertemu dengan kesibukan di dunia nyata. Saat ada ide dan sedikit kesempatan menulis, langsung saja blog yang lahir pertama yang di isi.

Nggak janji juga, sih, tapi akan diusahakan untuk kembali pada komitmen awal.

Sunday, August 31, 2014

Doa Ibu Imam Bukhari

Seri Pejuang Ilmu >1<

Siapa tak kenal nama Imam Bukhari? Perawi hadist peringkat pertama untuk keshahihannya. Tetapi, pernahkah kita mencari tahu bagaimana kehidupan dan perjuangan beliau dalam upaya menghasilkan karya yang spektakuler dan sangat dibutuhkan itu? Padahal bisa dipastikan, dari kehidupan beliau banyak hal yang bisa kita pelajari untuk kita contoh dan terapkan dalam kehidupan.

Abu Abdillah Muhammad bin Isma'il bin Ibrahim bin Al-Mughiroh bin Badrudizbah Al-Ju'fiy Al-Bukhari, lahir tahun 194 H di Bukhoro, salah satu wilayah di Rusia (atau Uzbekistan?). Itu sebabnya beliau disebut sebagai Imam Bukhari.

Beberapa sumber mengatakan, setelah kelahirannya Imam Bukhari mengalami kebutaan. Tapi dengan kesabaran, orang tuanya tak bosan berdoa untuk kesembuhannya.

Muhammad bin Ahmad bin Fadhl al-Balkhi berkata,"Aku mendengar bapakku berkata:'Kedua mata Muhammad bin Ismail (Imam Bukhari) buta pada waktu kecilnya. Hingga suatu saat ibunya mimpi bertemu dengan Nabi Ibrahim al-Khalil dalam tidurnya. Nabi Ibrahim berkata kepadanya,"Wahai engkau perempuan! Sesungguhnya  Allah telah mengembalikan penglihatan anakmu lantaran banyaknya tangisanmu (atau doamu-al-Balkhi sang perawi ragu antara keduanya), lalu pada pagi hari kami melihat, ternyata Allah telah mengembalikan penglihatannya."

Sebuah pelajaran besar yang bisa kita ambil, bahwasanya tak ada yang mustahil bagi Allah. Dari kenyataan ini juga kita bisa belajar, salah satu cara bagaimana mengantarkan anak menuju kesuksesannya.

Kisah ini juga mengingatkan kita pada sebuah hadist, dari Abu Hurairah ra, berkata, Rasulullah saw bersabda,"Tiga doa yang mustajab (didengar oleh Allah) yang tidak ada keraguan lagi di dalamnya ; doa orang yang terdzalimi, doa seorang musafir dan doa orang tua untuk anaknya." HR Tirmidzi.

Sebagian kita beranggapan, anak berkebutuhan khusus adalah musibah dan beban berkepanjangan. Itu semua hanya anggapan, karena Allah tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Apapun ciptaannya akan bermanfaat, tergantung bagaimana manusia menerima dan mengelolanya.

Selain kehidupan Imam Bukhari, mungkin kita bisa mengambil contoh orang tua masa kini yang mampu mengoptimalkan potensi anaknya yang berkebutuhan khusus, bahkan melebihi manusia normal lainnya.

Tuesday, April 29, 2014

IMAN ITU BERCABANG-CABANG

"Maksudnya apa? Bukankah iman itu merupakan keyakinan dalam hati, ikrar dengan lisan dan amal dengan anggota badan. Bertambah karena taat dan berkurang karena maksiat?"

"Betul, naaaah, cabang-cabang iman ini merupakan penjabaran dari pengertian iman tersebut. Sebagai Muslim, sebaiknya kita tahu, sehingga bisa hidup dengan iman yang benar?"

"Ada berapa, cabang iman?"

"Iman itu terdiri dari enam puluh sekian atau tujuh puluh sekian cabang, yang paling utama adalah ucapan 'laa ilaaha illallaah', yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan malu adalah salah satu cabang dari iman." (HR Bukhari n Muslim dari Abu Hurairah)

"Banyak banget! tapi, mengapa yang paling utama ucapan laa ilaaha illallaah'?"

"Karena 'laa ilaaha illallaah' inti dakwah para rasul yang diutus Allah ke muka bumi, dalam firman-Nya:
'Dan Kami tidak mengutus seorang rasul sebelum kamu, melainkan Kami wahykan kepadanya bahwasanya tidak ada Tuhan (yang wajib disembah) melainkan Aku, maka sembahlah Aku.' (Al Anbiya : 25)"

"Ucapan laa ilaaha illallaah yang disertai pemahaman, akan memberikan pengaruh pada diri yang mengucapkan dalam menjalani kehidupannya, sesuai dengan tujuan diciptakannya, yaitu beribadah kepada Allah."

"Kok cabang iman terendah menyingkirkan gangguan dari jalan?"

"Karena sebagian kita suka meremehkan amal-amal sederhana, seperti menyingkirkan duri atau kayu yang menghalangi jalan, padahal itu merupakan amal yang membuktikan keimanan seseorang. Dengan perbuatan sederhana itu, banyak orang terselamatkan, terhindar dari musibah, bukankah hal itu layak mendapat ganjaran pahala? "

"Terus kenapa malu juga bagian dari iman?"

"Rasa malu biasanya mencegah kita dari berbuat maksiat."

"Cabang iman yang lain, apa aja?"

"Wedew! Perlu penjelasan panjang lebar nih! Biar puas, baca di kitab Fathul Bari karya Ibnu Hajar, atau minimal di buku Arba'in Tarbawiyah karya Fakhruddin Nursyam, Lc."

"Wah! Pe er dong?"

"He he he."



Thursday, March 27, 2014

KITA BUTUH KOTAK

Belakangan, terjadi alergi massal terhadap masalah politik dan partai.

Salah satunya pernyataan bahwa partai itu merupakan tindakan pengkotak-kotakan terhadap manusia, dan tidak sepantasnya dilakukan terhadap manusia.

Benarkah manusia tidak butuh kotak?

Kalau kotak yang dimaksud adalah penggolongan manusia, benarkah tidak manusiawi? Sedangkan Allah sendiri menggolongkan manusia ke dalam dua golongan, dua kotak, yaitu hizbusyaithon dan hizbullah.

Menurutku bukan masalah pengkotakannya yang perlu kita kritisi, tapi dasar pengkotakan itu.

Allah menggolongkan manusia dengan dasar perbedaan ketaatanNya, yang taat dan setia kepada syaithon disebut hizbusyaithon, golongan syetan, partai syetan, sedang yang taat kepada Allah disebut hizbullah, golongan yang taat dan setia kepada Allah, partainya Allah.

Bukankah ada kecenderungan manusia mendekat kepada yang sejenis, nyaman dengan karakter sejenis? Artinya berkotak-kotak, bergolongan, berpartai, itu merupakan naluri manusia, sangat manusiawi.

Jujur, bagaimana rasanya kalau kita merasa tidak berada di golongan tertentu? golongan syeitan atau golongan Allah? golongan kafir atau golongan beriman? nggak jelas siapa kawan siapa lawan?